Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Kurang dari 24 Jam Setelah Dibuka


Surakarta, 18 April 2026 - Iran kembali menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal komersial hanya kurang dari 24 jam setelah sempat mengumumkan pembukaan jalur tersebut. Keputusan mendadak ini memicu kebingungan di pasar energi global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa penutupan ini dilakukan sebagai respons terhadap sikap Amerika Serikat yang tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Kami tidak akan membiarkan jalur strategis ini digunakan secara bebas sementara AS terus melakukan agresi ekonomi dan militer,” tegas Araghchi dalam pernyataan resmi yang dikutip Reuters dan Al Jazeera pada Senin (14 April 2026).
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa beberapa tanker sempat melintas pada Sabtu pagi setelah pengumuman pembukaan, tetapi situasi di lapangan berubah cepat. Militer Iran kemudian mengumumkan bahwa kendali atas Selat Hormuz telah dikembalikan ke kondisi sebelumnya dengan pengawasan ketat dari angkatan bersenjata. Mereka juga menuding langkah blokade Amerika Serikat sebagai “tindakan perampasan di laut” yang melanggar hukum internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20-21% pasokan minyak dunia setiap harinya. Penutupan bahkan sementara saja langsung memicu lonjakan harga minyak. Harga Brent sempat naik lebih dari 5% dalam sesi Asia, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan. Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika penutupan berlangsung lebih lama, harga minyak bisa kembali mendekati level US$120 per barel, sebagaimana yang terjadi pada puncak konflik awal Maret lalu.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini. “Kami terus memantau situasi dan mengimbau semua pihak untuk menahan diri serta kembali ke jalur diplomasi,” ujar juru bicara Kemlu pada Senin sore. Kenaikan harga minyak global berpotensi menekan subsidi BBM dan meningkatkan inflasi di dalam negeri.
Penutupan Selat Hormuz kali ini semakin memperumit upaya mediasi internasional. Meskipun sempat ada sinyal gencatan senjata antara Iran dan pihak Barat, ketidaksepakatan mengenai program nuklir Iran dan sanksi ekonomi masih menjadi hambatan utama. Banyak pengamat memprediksi bahwa ketegangan ini akan berlanjut setidaknya hingga akhir April, kecuali ada terobosan diplomatik yang signifikan.
Situasi ini menjadi pengingat betapa strategisnya Selat Hormuz bagi stabilitas ekonomi dunia dan betapa rentannya pasar energi terhadap gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Sumber gambar: ABC dengan gubahan
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi