Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker Barat di Selat Hormuz


Surakarta, 2 Februari 2026 - Iran dikabarkan telah melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak yang sedang berlayar di sekitar Selat Hormuz, yang diklaim milik Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Serangan ini terjadi pada 1 Maret 2026, hanya sehari setelah konfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan AS-Israel ke Tehran. Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, dengan pernyataan bahwa ketiga tanker "ditembak dengan misil dan sedang terbakar," seperti yang dilaporkan BBC News pada 1 Maret 2026. IRGC menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut "melanggar larangan berlayar di Selat Hormuz," yang telah diberlakukan Iran sebagai respons terhadap agresi AS-Israel. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital untuk 20% pasokan minyak dunia, kini menjadi pusat konflik yang memicu kepanikan global.
Menurut laporan Reuters pada 1 Maret 2026, serangan ini mengakibatkan salah satu kapal tanker meledak, sementara dua lainnya rusak parah, dengan satu seafarer tewas dan beberapa luka. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi adanya "aktivitas militer signifikan" di wilayah tersebut, dengan laporan insiden dua nautical miles utara Kumzar, Oman. Iran, melalui state TV, membenarkan serangan terhadap tanker yang "ilegal mencoba melintasi Selat Hormuz," seperti yang dikutip Anadolu Agency. Dampak langsung adalah penurunan drastis traffic kapal tanker hingga 70%, dengan lebih dari 200 kapal berlabuh di sekitar selat karena peringatan IRGC bahwa "tidak ada kapal yang boleh lewat," menurut data shipping dari Reuters. Raksasa shipping seperti AP Moeller-Maersk telah menghentikan transit melalui Selat Hormuz dan reroute kapal ke Afrika Selatan, seperti yang dilaporkan Lloyd's List.
Eskalasi ini berakar dari serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Khamenei dan memicu balasan Iran. Menurut The New York Times, serangan tersebut bagian dari Operation Epic Fury, yang menargetkan fasilitas nuklir dan kepemimpinan Iran. Iran, yang menganggapnya sebagai deklarasi perang, telah menutup navigasi di Selat Hormuz, memaksa ratusan tanker minyak dan LNG berhenti, seperti yang dianalisis Fortune. Harga minyak Brent melonjak 10% ke lebih dari $82 per barel, sementara gas alam naik hingga 25%, menurut BBC. CNBC menambahkan bahwa konflik ini mengancam pasokan 20% minyak dunia melalui Selat Hormuz, dengan carrier seperti Maersk suspensi Suez/Red Sea routings.
Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan pada 2 Maret 2026, karena konflik bisa mempengaruhi harga BBM domestik dan stabilitas ekonomi global, dengan BI memproyeksikan dampak pada inflasi impor jika minyak terus naik. Meski demikian, harapan diplomasi masih ada, dengan mediasi dari Qatar dan Oman yang sedang berlangsung untuk mencegah perang total di Timur Tengah.
Konflik ini menegaskan bahwa ketegangan AS-Iran tetap menjadi ancaman stabilitas global, dengan kedua pihak menunjukkan kesiapan militer yang tinggi.
Sumber gambar: Reuters
