Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei Akibat Serangan AS-Israel
Surakarta, 1 Maret 2026 - Media pemerintah Iran resmi mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menargetkan kantornya di Tehran pada dini hari 28 Februari 2026. Serangan ini, yang digambarkan sebagai "tindakan pengecut" oleh otoritas Iran, menjadi puncak eskalasi konflik yang telah memanas sejak awal tahun, terutama setelah ultimatum Trump soal program nuklir Iran. Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, tewas bersama beberapa penasihat utamanya, seperti yang dilaporkan IRNA (Islamic Republic News Agency) pada hari yang sama. Pemerintahan sementara Iran langsung menyatakan keadaan darurat nasional, dengan Presiden Masoud Pezeshkian bersumpah akan membalas "dengan kekuatan penuh" untuk membela kedaulatan negara.
Serangan ini dilancarkan setelah negosiasi di Oman gagal total pada 26 Februari 2026, di mana Iran menolak tuntutan AS untuk pembongkaran lengkap fasilitas nuklirnya. Menurut laporan Reuters pada 28 Februari 2026, operasi gabungan AS-Israel melibatkan pesawat F-35 stealth dan drone canggih yang menargetkan bunker bawah tanah di kompleks kepemimpinan Iran, menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa mencapai puluhan orang. Israel, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, membenarkan serangan sebagai "langkah preventif" untuk mencegah ancaman nuklir Iran, sementara Trump dalam pernyataan resmi Gedung Putih menyebut kematian Khamenei sebagai "peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali arah negaranya dari rezim yang menindas." Trump menambahkan bahwa AS siap mendukung transisi damai, tapi tidak akan mundur dari sanksi jika Iran tidak kooperatif.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan dengan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel dan basis militer AS di Teluk Persia, termasuk ke Irak dan Bahrain, seperti yang dikonfirmasi CNN pada 28 Februari 2026. Serangan ini menyebabkan kepanikan massal, dengan ribuan warga Iran berbondong-bondong meninggalkan kota-kota besar seperti Tehran dan Isfahan karena takut serangan lanjutan. Menurut laporan Al Jazeera, korban sipil di kedua sisi telah mencapai ratusan, dengan infrastruktur energi Iran rusak parah, mendorong harga minyak Brent naik 7% ke US$92 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan global. Uni Eropa, Kanada, dan Prancis menyatakan solidaritas dengan Iran, menyebut serangan AS-Israel sebagai "agresi tidak proporsional," sementara Rusia dan China mengecam Trump dan menawarkan dukungan militer ke Iran.
Di pasar keuangan, eskalasi ini justru mendorong penguatan Bitcoin (BTC) sebesar 3,29% dalam 24 jam ke level US$68.000, menurut CoinMarketCap pada 28 Februari 2026. Investor melihat BTC sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, mirip dengan rally selama konflik Ukraina 2022. Namun, analis dari Bloomberg memperingatkan bahwa jika perang meluas, volatilitas BTC bisa meningkat karena risiko regulasi dan gangguan rantai pasok chip mining. Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam pada 28 Februari 2026, karena konflik bisa mempengaruhi harga BBM domestik dan stabilitas ekonomi global, dengan BI memproyeksikan dampak pada inflasi impor jika minyak terus naik.
Kematian Khamenei ini menjadi titik balik potensial dalam sejarah Timur Tengah, dengan Iran yang kini dipimpin sementara oleh Pezeshkian berpotensi menghadapi perpecahan internal di tengah tekanan eksternal. Dunia menunggu langkah selanjutnya, dengan harapan diplomasi bisa mencegah perang total.
