Iran Tolak Ajakan Gencatan Senjata Trump: “Mereka Bunuh Rakyat Kami"

3/10/20262 min baca

USA flag on pole at the city during day
USA flag on pole at the city during day

Surakarta, 10 Maret 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kuat untuk mengakhiri perang dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Dalam unggahan di Truth Social pada 6 Maret 2026, Trump menyatakan harapan dan doanya agar konflik segera berakhir. “Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu (perang) tidak terjadi!” tulisnya, merespons penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan ancaman balasan yang semakin membara.

Namun, Iran langsung menolak ajakan gencatan senjata tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan tegas menyatakan bahwa Teheran tidak akan menerima tawaran damai dari Washington. “(Mereka) membunuh rakyat kami, membunuh siswi-siswi, Anda tahu itu, mereka menyerang rumah sakit. Dan sekarang Anda ingin meminta gencatan senjata? Ini tidak akan semudah itu,” tegas Araghchi dalam pernyataan yang dikutip NBC News pada 7 Maret 2026.

Penolakan Iran ini datang setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu gelombang balasan besar-besaran dari Iran, termasuk serangan rudal dan drone ke puluhan fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Irak, Qatar, dan UEA. Ribuan rudal telah diluncurkan, menyebabkan kerusakan signifikan pada markas Armada Kelima di Manama dan pangkalan Al Udeid di Qatar.

Pemerintah Iran yang kini dipimpin sementara oleh Presiden Masoud Pezeshkian dan didukung putra Khamenei, Mojtaba Khamenei (yang baru saja diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi), menyatakan bahwa perdamaian hanya mungkin jika AS dan Israel menghentikan “agresi terang-terangan” dan menarik pasukan dari kawasan. Araghchi menambahkan bahwa Iran tidak akan berunding di bawah ancaman militer.

Di sisi lain, Trump dalam pernyataan terbaru mengklaim bahwa operasi militer AS-Israel telah “sangat melemahkan” Iran dan siap melanjutkan tekanan hingga Teheran menyerah. Namun, analis dari Council on Foreign Relations (CFR) memperingatkan bahwa penolakan keras Iran ini bisa memperpanjang konflik dan memicu krisis energi global yang lebih parah.

Harga minyak Brent sudah melonjak hampir 30% sejak akhir Februari, menembus US$110 per barel, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun drastis hingga 70%. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri kembali menyatakan keprihatinan mendalam dan mengimbau semua pihak menahan diri serta kembali ke meja perundingan.

Konflik ini semakin menegaskan bahwa jalan damai masih sangat jauh, dengan kedua pihak saling menuntut penyerahan tanpa syarat.