Irwan Mussry: Bisnis Besar Berawal dari Pengalaman Pelanggan


Surakarta, 19 September 2026 - Kisah Irwan Danny Mussry membangun bisnis jam tangan mewah bermula dari pengalaman sederhana yang mengecewakan. Pada 1983, setelah kembali dari Amerika Serikat, pemuda berusia sekitar 21 tahun itu ingin membeli jam Gucci di Gajah Mada Plaza, Jakarta. Namun, ia mendapat pelayanan yang buruk dan tidak sesuai standar. Alih-alih berhenti sebagai konsumen, Irwan melihat masalah tersebut sebagai peluang bisnis.
Dari Kekecewaan Menjadi Distributor Resmi
Setahun kemudian, pada 1984, ia mendirikan atau mengembangkan Time International (PT Timerindo Perkasa International) dan mengajukan proposal kerja sama kepada Gucci Timepieces. Saat itu, pemain di industri produk mewah di Indonesia masih terbatas. Gucci menyambut baik tawaran tersebut dan memberikan wewenang kepada Time International untuk menjadi distributor resmi arloji Gucci di Indonesia. Inilah cikal bakal bisnis yang kini menjadi salah satu pemain utama ritel luxury di Tanah Air.
Kunci awalnya bukan sekadar menjual produk, tetapi memahami bahwa barang mewah membutuhkan pengalaman yang sepadan dengan citranya. Irwan menerapkan prinsip sederhana: pelanggan harus diperlakukan seperti keluarga. Penjual tidak hanya menjelaskan spesifikasi produk, tetapi membantu konsumen memilih sesuai karakter, gaya hidup, dan kebutuhannya.
Pengalaman Pelanggan sebagai Aset Utama
Strategi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pelanggan dapat menjadi aset bisnis yang sangat berharga. Dalam industri premium, pelayanan buruk bukan sekadar kehilangan satu transaksi, melainkan berisiko merusak reputasi merek secara keseluruhan. Time International kemudian berkembang dengan membuka The Time Place pada 1999 di Plaza Senayan. Toko tersebut menjadi rumah bagi berbagai merek jam mewah seperti Gucci, Rolex, TAG Heuer, IWC, dan kemudian merek-merek high-end lainnya.
Bahkan, bisnis ini mampu bertahan melewati krisis moneter 1997-1998. Fundamental pasar dan hubungan baik dengan konsumen menjadi modal penting ketika kondisi ekonomi sedang tertekan.
Ekspansi dan Diversifikasi
Memasuki 2000-an, pasar jam mewah Indonesia tumbuh pesat. Time International memperluas jaringan toko di berbagai pusat perbelanjaan premium dan mulai merambah ke Singapura (termasuk toko Rolex di Marina Bay Sands). Portofolio merek pun semakin luas, mencakup Rolex, Cartier, Chopard, Hublot, Audemars Piguet, Piaget, dan banyak lagi. Perusahaan juga mengembangkan ritel multi-merek seperti INTime dan Urban Icon, serta memasuki segmen fashion dan beauty dengan merek seperti Chanel, Fendi, Berluti, Tory Burch, hingga Laneige.
Kini Time International mengelola puluhan hingga lebih dari seratus titik penjualan dengan standar layanan internasional. Irwan, yang merupakan generasi kedua dari keluarga pengusaha (ayahnya Charles Mussry memiliki bisnis service centre jam dan otomotif), dikenal sebagai salah satu tokoh utama di industri barang mewah Indonesia.
Pelajaran Sederhana dari Kisah Nyata
Dari perjalanan Irwan Mussry terlihat bahwa bisnis besar tidak selalu dimulai dari ide yang rumit atau modal melimpah sejak awal. Ia justru membangun keunggulan dari satu hal sederhana: membuat pelanggan merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik. Pengalaman pribadi yang buruk diubah menjadi standar pelayanan yang tinggi, lalu dikembangkan menjadi sistem yang konsisten.
Dalam industri yang mengandalkan citra dan kepercayaan, kemampuan menciptakan pengalaman positif sering kali lebih menentukan daripada sekadar memiliki produk yang bagus.
Irwan Mussry memulai bisnis jam tangan mewah setelah kecewa dengan pelayanan buruk saat ingin membeli Gucci pada 1983. Ia mendirikan Time International pada 1984, menjadi distributor resmi Gucci, lalu membangun The Time Place dan jaringan ritel luxury. Prinsip utamanya: perlakukan pelanggan seperti keluarga. Dari satu pengalaman buruk, lahir bisnis yang kini menjadi pemain utama di industri barang mewah Indonesia.
Image Source: Instagram/Irwan Mussry
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi