Jatuh Bangun Achmad Zaky Sebelum Membangun Bukalapak

8/24/20262 min baca

Jatuh Bangun Achmad Zaky Sebelum Membangun Bukalapak
Jatuh Bangun Achmad Zaky Sebelum Membangun Bukalapak

Surakarta, 24 Agustus 2026 - Perjalanan Achmad Zaky membangun Bukalapak tidak dimulai dari bisnis yang langsung sukses. Sebelum mendirikan salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, ia justru pernah menghabiskan tabungan untuk berjualan mie ayam hingga akhirnya bangkrut.

Kegagalan Pertama di Bangku Kuliah

Kegagalan tersebut terjadi ketika Zaky masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Uang tabungan dan hadiah dari berbagai kompetisi yang pernah ia menangkan digunakan untuk menjalankan bisnis kuliner mie ayam sekitar tahun 2006. Usaha itu hanya bertahan sekitar enam bulan karena kurangnya pelanggan dan pengalaman mengelola bisnis. Akhirnya, seluruh modal habis dan usaha gulung tikar.

Menurut Zaky, kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia justru melihat kegagalan sebagai proses penting yang dapat menjadi pelajaran berharga. “Kegagalan itu adalah suatu proses yang sangat dahsyat dan selalu tergores di kepala,” ujarnya dalam berbagai kesempatan. Pengalaman bangkrut berjualan mie ayam memberinya pemahaman nyata tentang manajemen kas, operasional, dan risiko bisnis—hal yang tidak didapat hanya dari bangku kuliah.

Rasa Minder di Lingkungan Baru

Perjalanan Zaky juga tidak selalu mudah ketika menempuh pendidikan di ITB. Berasal dari Sragen, Jawa Tengah, ia sempat merasa rendah diri karena kesulitan berbahasa Inggris dan melihat mahasiswa lain lebih percaya diri serta fasih berkomunikasi. Kondisi tersebut bahkan sempat membuatnya stres dan takut mengikuti organisasi kampus.

Namun setelah berani melawan rasa takut, Zaky justru mendapatkan pengalaman baru yang membuatnya semakin percaya diri. Ia aktif di berbagai kegiatan, termasuk mendirikan Techno Entrepreneurship Club, dan mulai melihat peluang lebih besar di dunia teknologi.

Melihat Peluang di Era Digital

Dari berbagai pengalaman tersebut, Zaky kemudian melihat peluang besar di era digital. Menurutnya, internet dapat menjadi pasar yang luas bagi anak muda untuk membangun bisnis dan menciptakan peluang. Setelah lulus dari ITB, ia bersama rekan-rekannya merintis bisnis teknologi, termasuk agensi konsultasi Suitmedia, sebelum akhirnya mendirikan Bukalapak pada 2010.

Bukalapak dimulai dengan modal sangat kecil—hanya ratusan ribu rupiah untuk domain dan hosting. Di awal, Zaky dan rekan-rekannya harus bertahan dengan sumber daya terbatas, merekrut dan kehilangan anggota tim, serta menghadapi keraguan pasar. Namun, ketekunan dan pembelajaran dari kegagalan sebelumnya membuat mereka terus bertahan hingga platform tersebut tumbuh menjadi salah satu pemain besar e-commerce Indonesia.

Pelajaran dari Jatuh Bangun

Ia menilai kesuksesan membutuhkan kerja keras, kemauan, tekad kuat, kreativitas, dan keberanian untuk terus mencoba. Kisah Zaky menunjukkan bahwa kegagalan dalam bisnis tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Justru dari kegagalan tersebut, seseorang bisa mendapatkan pengalaman yang menjadi bekal untuk membangun bisnis yang lebih besar.

Dari pedagang mie ayam yang bangkrut hingga menjadi salah satu tokoh penting di ekosistem startup Indonesia, perjalanan Achmad Zaky adalah bukti bahwa jatuh bangun adalah bagian alami dari proses membangun sesuatu yang bermakna.

Achmad Zaky membuktikan bahwa kegagalan kecil bisa menjadi fondasi kesuksesan besar. Pengalaman bangkrut berjualan mie ayam dan rasa minder di kampus justru membentuk ketahanan mental dan pemahaman bisnis yang membantunya membangun Bukalapak. Bagi calon wirausaha, kisah ini menjadi pengingat bahwa keberanian mencoba dan belajar dari kegagalan jauh lebih berharga daripada menunggu kondisi sempurna.

Image Source: Liputan6

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi