Ketika Ilmu Bisnis Digital Bertemu Dunia Coworking: Magang Market Research di Kaspa Space

9/7/20262 min baca

Ketika Ilmu Bisnis Digital Bertemu Dunia Coworking: Refleksi Magang sebagai Market Research Intern di Kaspa Space
Ketika Ilmu Bisnis Digital Bertemu Dunia Coworking: Refleksi Magang sebagai Market Research Intern di Kaspa Space

Surakarta, 7 September 2026 - Halo semua! Saya Rozalia Zahrah Balqisyah, mahasiswa Program Studi S1 Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Selama kuliah, saya banyak belajar tentang strategi digital, perilaku konsumen, dan bagaimana data dapat diterjemahkan menjadi keputusan bisnis. Tapi ada satu pertanyaan yang selalu mengganjal: bagaimana semua teori itu benar-benar dipakai di lapangan? Jawabannya saya temukan selama satu bulan magang sebagai Market Research Intern di Kaspa Space Surakarta.

Tugas yang Ternyata Tidak Sesederhana Kelihatannya

Kalau di riset sebelumnya Kaspa Space sudah punya pemetaan untuk segmen UMKM, tugas saya justru mengarah ke tiga segmen yang belum tersentuh: Freelancer, Komunitas (general maupun kampus), dan Start-Up di Surakarta dan Solo Raya. Awalnya saya kira polanya akan mirip tinggal kumpulkan data, klasifikasikan, selesai. Ternyata tidak.

Ketiga segmen ini punya "bentuk" yang benar-benar berbeda. Startup punya struktur perusahaan dan company size yang bisa diukur. Komunitas punya bidang kegiatan dan frekuensi aktivitas yang jadi penanda seberapa hidup komunitas itu. Sementara freelancer adalah individu, sehingga yang bisa dilihat justru profesi, jejak digital, dan ketersediaan kontak. Saya jadi belajar bahwa riset pasar yang baik tidak bisa disamaratakan setiap segmen butuh variabel penilaiannya sendiri.

Belajar Jujur pada Batasan Data

Bagian yang paling banyak mengajarkan saya justru bukan soal mengumpulkan data, tapi soal mengakui keterbatasannya. Karena waktu magang yang terbatas, seluruh proses saya lakukan lewat desk research menelusuri LinkedIn, Instagram, dan website publik tanpa wawancara langsung ke calon konsumen. Artinya, profil psikografis yang saya susun (kebutuhan akan fleksibilitas ruang, efisiensi operasional, dukungan kolaborasi) bukanlah hasil survei sikap, melainkan inferensi dari pola kerja yang teramati.

Awalnya saya sempat ragu: apakah kesimpulan seperti ini cukup kuat untuk dipakai? Setelah berdiskusi dan membaca ulang data, saya sadar justru di situlah letak kejujuran ilmiah sebuah riset mengakui bahwa temuan ini adalah profil kerja untuk pemasaran, bukan klaim pasti tentang preferensi pribadi seseorang. Insight yang jujur soal batasannya justru lebih berguna daripada kesimpulan yang terlihat pasti tapi rapuh.

Refleksi

Sebagai mahasiswa Bisnis Digital, pengalaman ini menunjukkan bahwa data bisnis yang baik tidak berhenti di angka. Ia perlu dibaca sesuai konteksnya, diakui batasannya, lalu diterjemahkan menjadi keputusan yang bisa dipakai. Saya juga belajar bahwa riset pasar bukan sekadar tugas administratif magang, tetapi cara berpikir yang bisa saya bawa ke mana pun nanti saya bekerja.

Terima kasih saya ucapkan kepada Pak Mahendra Wijaya selaku pemilik Kaspa Space yang telah memberi kesempatan untuk belajar dan menjalankan riset ini secara langsung, serta Mbak Utami dan Mba Almira yang selalu supportif selama saya menjalani proses magang. Pengalaman satu bulan ini menjadi jembatan berharga antara ilmu Bisnis Digital yang saya pelajari di kelas dengan realita dunia kerja yang jauh lebih dinamis dari yang saya bayangkan.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi