Khamenei Peringatkan AS: Serangan ke Iran Akan Picu Perang Regional di Timur Tengah

2/2/20262 min baca

A group of fighter jets sitting on top of each other
A group of fighter jets sitting on top of each other

Surakarta, 2 Februari 2026 - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS), menyatakan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan memicu perang regional yang meluas di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan Khamenei dalam pidato publik di Teheran pada 1 Februari 2026, di mana ia menuduh AS berambisi menguasai sumber daya alam Iran yang melimpah, seperti minyak dan gas. "Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional," ujar Khamenei, seperti dilaporkan Al Jazeera pada hari yang sama. Khamenei menambahkan bahwa rakyat Iran tidak akan gentar dengan ancaman AS, tapi siap memberikan respons kuat jika diserang, meskipun Iran tidak berniat memulai konflik. Peringatan ini muncul di tengah ketakutan masyarakat Iran atas kemungkinan perang, yang bisa memperburuk krisis ekonomi negara tersebut dengan inflasi 42% dan devaluasi rial.

Ketegangan ini semakin memuncak setelah AS mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Laut Arab pada akhir Januari 2026, sebagai bagian dari strategi "maximum pressure" untuk memaksa Iran kembali ke meja negosiasi nuklir. Menurut laporan Sky News pada 1 Februari 2026, Khamenei merespons dengan tegas bahwa AS harus sadar bahwa serangan akan menyeret seluruh wilayah ke dalam konflik, termasuk basis militer AS di Teluk Persia dan sekutu seperti Israel. Khamenei juga menuduh AS ingin "menelan" Iran untuk merebut sumber daya alamnya, sambil menegaskan bahwa "rakyat Iran tidak akan terguncang oleh ancaman semacam itu." Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump merespons dengan nada lebih lunak, menyatakan harapannya agar Iran menyetujui kesepakatan baru, seperti yang dilaporkan ABC News pada hari yang sama. Trump sedang mempertimbangkan opsi militer terbatas, tapi masih membuka pintu diplomasi untuk menghindari eskalasi, menurut sumber Reuters.

Pernyataan Khamenei ini bukan yang pertama; ia sering kali menekankan bahwa Iran tidak akan memulai perang tapi siap membalas dengan kekuatan regional jika diserang, seperti yang dikutip CBS News pada 1 Februari 2026. Respons ini datang setelah Trump mengancam serangan jika Iran tidak membongkar program nuklirnya, yang diklaim Teheran untuk tujuan damai. Menurut video analisis di YouTube dari channel seperti Firstpost pada 1 Februari 2026, Khamenei memperingatkan bahwa perang akan menjadi "regional conflict" yang menarik basis AS, negara Teluk, dan Israel ke dalamnya. Di sisi lain, Iran telah meningkatkan kesiapan militer dengan latihan rudal dan drone, sementara AS menyebarkan armada untuk deterrence, seperti yang dianalisis France 24. Uni Eropa, Kanada, dan Prancis telah menyatakan solidaritas dengan Iran, mengecam ancaman Trump sebagai provokasi, sementara China dan Rusia memperingatkan agar AS tidak escalates konflik.

Dampak global dari ketegangan ini sangat luas, dengan harga minyak Brent naik 5% ke US$85 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk Persia. Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan pada 2 Februari 2026, karena konflik bisa mempengaruhi harga BBM domestik dan stabilitas Timur Tengah. Meski demikian, harapan diplomasi masih ada, dengan mediasi dari Qatar dan Oman yang sedang berlangsung.

Konflik ini menegaskan bahwa ketegangan AS-Iran tetap menjadi ancaman stabilitas global, dengan kedua pihak menunjukkan kesiapan militer yang tinggi.