Kisruh Trump-Powell Dorong Harga Perak Meroket: Kapitalisasi Pasar Salip NVIDIA

1/13/20262 min baca

the one of the one book
the one of the one book

Surakarta, 13 Januari 2026 - Konflik antara Presiden Donald Trump dan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell semakin memanas, mendorong lonjakan harga perak yang membuatnya menjadi aset paling berharga kedua di dunia setelah emas. Pada 13 Januari 2026, harga perak dunia mencapai US$85,23 per ons, naik lebih dari 5% dalam sehari, sehingga kapitalisasi pasar perak tembus US$4,68 triliun—sementara melewati NVIDIA yang berada di US$4,63 triliun, menurut data CompaniesMarketCap.com. Kenaikan ini mencerminkan ketakutan investor atas independensi The Fed, yang bisa memicu ketidakstabilan ekonomi, sementara Bitcoin justru turun ke posisi ke-8 dengan market cap US$1,8 triliun setelah sempat salip Alphabet. Insiden ini dipicu oleh penyelidikan Departemen Kehakiman AS (DoJ) terhadap Powell, yang dianggap sebagai tekanan politik untuk menurunkan suku bunga lebih agresif sesuai keinginan Trump.

Konflik memuncak ketika DoJ mengirimkan subpoena grand jury ke The Fed pada 9 Januari 2026, meminta dokumen terkait testimony Powell di Kongres pada Juni 2025 tentang renovasi gedung Fed senilai US$2,5 miliar, yang dikritik Trump sebagai pemborosan. Powell, dalam video statement pada 11 Januari 2026, menyebut penyelidikan ini sebagai "pretext" untuk mempengaruhi kebijakan moneter, menyatakan bahwa "ancaman dakwaan pidana adalah konsekuensi dari The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan data terbaik untuk publik, bukan preferensi presiden." Ini menjadi eskalasi feud lama, di mana Trump berulang kali mengkritik Powell sebagai "incompetent" dan mengancam pemecatan karena suku bunga yang dianggap terlalu tinggi, seperti dalam wawancara Fox Business pada Desember 2025. Reaksi dari kalangan Republik pun muncul, dengan Senator Thom Tillis dan Kevin Cramer dari Senate Banking Committee mengkritik probe ini sebagai upaya "coercion" yang mengancam independensi Fed, sementara tiga mantan chair Fed seperti Janet Yellen, Ben Bernanke, dan Alan Greenspan mengeluarkan statement dukungan bersama Powell pada 12 Januari 2026.

Dampak pasar langsung terasa: Wall Street mengalami penurunan, dengan S&P 500 turun 1,2% dan dolar AS melemah, sementara gold dan silver menjadi safe haven utama. Perak, yang rally 176% sepanjang 2025, naik ke $85.23 per ons, membuat market cap-nya salip NVIDIA menjadi aset kedua terbesar setelah gold ($31 triliun), menurut NDTV dan The Defiant. Rally ini didorong permintaan industri (solar, EV) dan supply deficit, dengan prediksi harga $100/oz pada 2026 dari analis seperti Peter Schiff. Sebaliknya, Bitcoin turun 2.7% ke $90.235, dengan market cap $1.8 triliun jatuh ke posisi 8 setelah sempat salip Alphabet, akibat risk-off sentiment dan ETF outflows $486 juta, menurut CoinMarketCap dan CryptoQuant. Analis seperti Ki Young Ju memprediksi BTC sideways di Q1 2026 karena capital inflows kering, dengan risiko geopolitik menambah tekanan.

Konflik ini menimbulkan kekhawatiran luas tentang independensi bank sentral, dengan ekonom seperti Josh Lipsky dari Atlantic Council menyebutnya "shocking escalation" yang bisa memicu volatilitas global pada 2026. Di Indonesia, dampak potensial adalah pelemahan rupiah dan inflasi impor, dengan BI memproyeksikan pertumbuhan 5% tapi waspada terhadap krisis AS. Meski Trump deny keterlibatan, ini dilihat sebagai bagian dari agenda "America First" yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi dunia.