Lahan Perusahaan Disebut Paling Terdampak Kebakaran Hutan di Kaltim


Surakarta, 26 Agustus 2026 - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus meningkat seiring musim kemarau. Hingga akhir pekan lalu (sekitar 22 Agustus 2026), tercatat 430 kejadian dengan luas terdampak mencapai 1.260 hektare. Dari total tersebut, 1.197 hektare merupakan lahan, 32 hektare hutan, dan 30 hektare kebun.
Mayoritas area yang terbakar disebut berada di lahan perusahaan. “Yang kebakar itu seperti perkebunan, lahan warga, cuman paling banyak merupakan lahan milik perusahaan,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim Sugeng Priyanto.
Wilayah Terdampak Terluas
Kutai Kartanegara menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, mencapai 369 hektare dari 47 kejadian. Setelahnya ada Kutai Barat dengan 337 hektare dan Paser 268 hektare. Sejumlah wilayah lain seperti Samarinda, Berau, dan Penajam Paser Utara juga mencatat kejadian, meski dengan skala lebih kecil.
Kondisi ini membuat Provinsi Kaltim masih berada dalam status siaga bencana, sementara pemerintah daerah mempersiapkan kemungkinan peningkatan status penanganan.
Dampak bagi Pelaku Usaha
Bagi pelaku usaha, kondisi ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Kebakaran dapat mengganggu operasional, merusak aset, menghambat distribusi, hingga meningkatkan biaya pemulihan apabila perusahaan berada di wilayah terdampak. Di sektor perkebunan dan kehutanan, risiko kerusakan lahan konsesi menjadi perhatian serius, terutama karena Kementerian Kehutanan juga telah menjatuhkan sanksi administratif kepada sejumlah perusahaan di Kalimantan terkait karhutla.
Risiko juga dapat merembet ke rantai pasok. Ketika akses jalan, tenaga kerja, atau aktivitas produksi terganggu, perusahaan berpotensi menghadapi keterlambatan pengiriman dan tambahan biaya operasional. Asap tebal yang sering menyertai karhutla juga dapat memengaruhi kesehatan pekerja dan produktivitas.
Pentingnya Mitigasi Risiko
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya mitigasi risiko bagi perusahaan yang memiliki aset atau aktivitas di wilayah rawan kebakaran. Persiapan sumber air, pemantauan area secara rutin, jalur evakuasi, hingga sistem respons cepat perlu menjadi bagian dari perencanaan bisnis. Perusahaan juga perlu memastikan kesiapan peralatan pemadaman dan koordinasi dengan pihak berwenang.
Karena itu, keberlanjutan bisnis tidak cukup hanya berbicara soal mengejar pertumbuhan. Perusahaan juga perlu memastikan aset, operasional, dan rantai pasok memiliki strategi mitigasi menghadapi risiko lingkungan yang semakin sulit diprediksi. Di tengah perubahan iklim dan musim kemarau yang kerap ekstrem, kemampuan mengelola risiko karhutla menjadi salah satu penentu ketahanan bisnis di wilayah seperti Kalimantan Timur.
Karhutla di Kaltim yang didominasi lahan perusahaan menjadi pengingat bahwa risiko lingkungan dapat berdampak langsung pada operasional dan keuangan bisnis. Mitigasi yang proaktif, pengawasan lahan, serta kesiapsiagaan menghadapi kebakaran bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kelangsungan usaha di daerah rawan.
Image Source: Detiknews
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi