Limbah Daun dan Kulit Nanas Disulap Jadi Pakaian, Kok Bisa?

9/29/20262 min baca

Limbah Daun-Kulit Nanas Disulap Jadi Pakaian, Kok Bisa?
Limbah Daun-Kulit Nanas Disulap Jadi Pakaian, Kok Bisa?

Surakarta, 29 September 2026 - Melimpahnya produksi nanas di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, ternyata menyisakan persoalan serius berupa limbah daun dan kulit. Lahan panen nanas di kota yang dijuluki “Kota Nanas” ini mencapai ribuan hektare dengan produksi puluhan ribu ton per tahun. Sebagian besar daun dan kulitnya sebelumnya hanya dibuang atau dibakar, sehingga menjadi beban lingkungan.

Rita Mulyadi (sering disebut Rita), pengrajin dan pemilik Sentra Tenun Serat Nanas Riady (juga dikenal sebagai Rumah Songket Riady atau Rumah Busana Riady) di Kelurahan Gunung Ibul, Kecamatan Prabumulih Timur, melihat kondisi tersebut sebagai peluang. Ia mengolah daun nanas menjadi serat benang dan kulitnya menjadi pewarna alami. Bersama sejumlah ibu rumah tangga di lingkungannya, Rita mengembangkan usaha tenun serat nanas yang dirintis sejak sekitar 2021, di tengah pandemi COVID-19.

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai

Prosesnya dimulai dari ekstraksi serat daun nanas. Dari sekitar 10 kilogram daun nanas, mereka dapat menghasilkan sekitar 1 kilogram serat. Serat tersebut kemudian dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, lalu diolah lebih lanjut menjadi pakaian, tas, tanjak, sandal, dan berbagai produk kerajinan lainnya. Kulit nanas dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang ramah lingkungan.

Awalnya usaha ini berangkat dari pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Prabumulih dengan mendatangkan penenun serat nanas dari Jawa Barat. Rita, yang sudah berpengalaman lebih dari 27 tahun sebagai penenun, kemudian mengembangkan teknik tersebut khusus untuk serat nanas lokal jenis Queen yang kualitasnya dinilai unggul.

Kini sentra miliknya memiliki sekitar 10 alat tenun (termasuk bantuan Alat Tenun Bukan Mesin/ATBM dari Pertamina EP Prabumulih Field) dan melibatkan sekitar 10 pekerja, sebagian besar ibu-ibu setempat yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Produksi kain bisa mencapai puluhan meter per bulan, dengan harga kain tenun berkisar ratusan ribu rupiah per meter.

Menembus Pasar Ekspor

Produksi Sentra Tenun Serat Nanas Riady telah mencapai kualitas ekspor. Serat nanas halus sudah dikirim ke Singapura, dan ada minat dari perusahaan luar negeri yang membutuhkan bahan baku untuk pasar Eropa. Permintaan pasar sebenarnya masih lebih besar daripada kapasitas produksi. Rita mengaku belum mampu memenuhi pesanan dari Malaysia karena keterbatasan alat dan tenaga penenun.

Di sinilah peluang bisnisnya terlihat jelas. Bahan baku tersedia melimpah di sekitar Prabumulih, sementara kapasitas pengolahan masih menjadi kendala utama. Artinya, nilai terbesar tidak selalu berada pada komoditas utama (buah nanas), melainkan bisa muncul dari bagian yang sebelumnya dianggap tidak bernilai—yaitu daun dan kulitnya.

Dukungan dari berbagai pihak, termasuk program CSR Pertamina, Pemerintah Kota Prabumulih, dan Koperasi Miwa Pineapple, turut membantu pengembangan usaha ini. Selain itu, serat nanas Prabumulih juga mulai dieksplorasi untuk aplikasi lebih lanjut, seperti kapas staple yang berpotensi digunakan untuk bahan tekstil berkualitas tinggi, bahkan hingga fiber untuk rangka kendaraan atau produk teknis lainnya.

Omzet dan Dampak Sosial

Usaha yang dirintis Rita kini menghasilkan omzet sekitar Rp40–50 juta per bulan. Lebih dari sekadar angka, bisnis ini memberdayakan perempuan lokal, mengurangi limbah pertanian, dan menciptakan identitas produk khas Prabumulih yang ramah lingkungan.

Perjalanan Sentra Tenun Serat Nanas Riady menunjukkan bagaimana persoalan limbah dapat berubah menjadi bisnis berkelanjutan ketika pelaku usaha mampu menemukan cara baru untuk meningkatkan nilai sebuah bahan. Yang dibutuhkan bukan hanya kreativitas, tetapi juga kolaborasi, pelatihan, dan dukungan agar kapasitas produksi bisa mengejar permintaan pasar yang terus tumbuh.

Bagi pelaku usaha lain, kisah ini menjadi pengingat bahwa peluang sering kali tersembunyi di tempat yang paling tidak terduga—bahkan di tumpukan limbah yang selama ini dianggap remeh.

Rita Mulyadi di Prabumulih mengubah limbah daun dan kulit nanas menjadi serat, benang, kain, pakaian, dan tas melalui Sentra Tenun Serat Nanas Riady sejak 2021. Dari 10 kg daun dihasilkan sekitar 1 kg serat. Usaha ini melibatkan puluhan ibu rumah tangga, didukung Pertamina, menembus ekspor ke Singapura, dan menghasilkan omzet Rp40–50 juta per bulan. Keterbatasan kapasitas masih menjadi tantangan di tengah permintaan yang tinggi.

Image Source: BeritaOne

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi