Masakan Gosong Jadi Awal Bisnis Rp345 Triliun, Gimana Ceritanya?


Surakarta, 21 Oktober 2026 - Siapa sangka masakan yang hampir gosong bisa melahirkan bisnis bernilai fantastis? Lee Kam Sheung (juga dikenal sebagai Lee Kum Sheung) justru menemukan cikal bakal saus tiram pada 1888 dari kejadian tak disengaja di kedai tehnya di Nanshui, Zhuhai, Provinsi Guangdong, China.
Saat itu, Lee mengelola kedai kecil yang menyajikan tiram rebus kepada penduduk setempat. Suatu hari, ia sibuk melayani pelanggan hingga lupa mematikan api di dapur. Ketika aroma kuat menyebar, ia buru-buru kembali ke dapur karena khawatir tiramnya sudah terlalu matang. Yang ia temukan justru cairan rebusan yang mengental menjadi pasta cokelat gelap kental. Alih-alih membuangnya, Lee mencoba mencicipinya. Rasanya justru lezat—kaya umami, sedikit manis, dan gurih.
Lee kemudian bereksperimen dengan tambahan bumbu dan rempah. Hasilnya menjadi saus tiram yang disukai pelanggan, bahkan banyak yang ingin membelinya secara terpisah untuk dibawa pulang. Melihat peluang itu, pada 1888 ia mendirikan Lee Kum Kee untuk memproduksi saus tiram secara massal, sekaligus pasta udang.
Dari Kedai Kecil Menjadi Merek Global
Produk saus tiram Lee Kum Kee cepat diterima di pasar Asia. Perusahaan sempat pindah ke Makau pada 1902, lalu memindahkan markas ke Hong Kong pada 1932 untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, termasuk ekspor ke Amerika Serikat sejak era generasi kedua.
Setelah Lee Kam Sheung meninggal, bisnis diteruskan oleh keturunannya. Kini perusahaan telah memasuki generasi keempat hingga keenam dan tetap dikelola sebagai bisnis keluarga. Lee Kum Kee tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi produsen saus tiram terbesar di dunia dengan lebih dari 200–300 produk, mulai dari saus tiram, kecap, hoisin, XO sauce, hingga berbagai bumbu masakan Asia. Produknya dipasarkan di lebih dari 100 negara.
Keberlanjutan bisnis ini tidak lepas dari pengawasan kualitas yang ketat serta nilai-nilai filosofi Tionghoa dan Konfusianisme yang dijaga perusahaan, termasuk tata kelola keluarga yang jelas untuk mencegah konflik internal. Strategi tersebut membantu mempertahankan konsistensi rasa sekaligus memperluas lini produk.
Kekayaan Keluarga dan Skala Bisnis
Forbes mencatat kekayaan keluarga Lee (khususnya generasi penerus Lee Man Tat) mencapai kisaran miliaran dolar AS. Pada 2023, nilai kekayaan keluarga sempat disebut sekitar US$19,3 miliar atau hampir Rp345 triliun. Di tahun-tahun berikutnya, angka tersebut tetap berada di level sangat tinggi, menempatkan mereka di antara keluarga terkaya di Hong Kong. Lee Kum Kee Group juga telah berekspansi ke sektor kesehatan, properti, dan investasi.
Pelajaran dari “Kecelakaan” Dapur
Kisah Lee Kum Kee membuktikan bahwa kejadian tak terduga bisa menjadi peluang bisnis besar jika diikuti dengan eksperimen, kepekaan terhadap selera pasar, dan komitmen menjaga kualitas. Yang bagi banyak orang dianggap “gagal” atau “gosong”, bagi Lee justru menjadi fondasi perusahaan yang bertahan lebih dari 135 tahun.
Dari kedai teh sederhana di Guangdong hingga menjadi merek bumbu global yang ada di dapur rumah tangga dan restoran di berbagai benua, perjalanan Lee Kum Kee menunjukkan kekuatan inovasi yang lahir dari pengamatan dan keberanian mencoba.
Image Source: Bloomberg
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi