McKinsey Libatkan 25 Ribu Agen AI di Tengah 40 Ribu Karyawan Manusia, Tak Ada PHK Massal

5/3/20262 min baca

Artificial intelligence concept within a human head
Artificial intelligence concept within a human head

Surakarta, 3 Mei 2026 - McKinsey & Co, raksasa konsultan manajemen global, kini memiliki total “tenaga kerja” mencapai 60.000 orang. Dari jumlah tersebut, 40.000 adalah karyawan manusia dan 25.000 sisanya merupakan agen kecerdasan buatan (AI). Hal ini diungkapkan langsung oleh Global Managing Partner McKinsey, Bob Sternfels, dalam beberapa kesempatan termasuk di Consumer Electronics Show (CES) Las Vegas dan podcast All-In.

Menurut Sternfels, penggunaan AI agents ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan karyawan manusia, melainkan untuk melengkapi dan meningkatkan produktivitas mereka. “Saya ingin setiap karyawan manusia didampingi setidaknya satu atau lebih agen AI,” ujarnya. Dalam waktu 18 bulan terakhir, jumlah agen AI McKinsey melonjak drastis dari hanya sekitar 3.000 menjadi 25.000. Perusahaan bahkan menargetkan dalam 18 bulan ke depan setiap karyawan akan “di-enable” oleh agen AI, menciptakan model kerja hybrid human + agentic.

Agen AI ini membantu menyelesaikan berbagai tugas operasional, mulai dari analisis data, pembuatan chart (sudah menghasilkan jutaan chart dalam beberapa bulan), sintesis informasi, hingga mendukung proses perekrutan karyawan baru. McKinsey mengklaim telah menghemat hingga 1,5 juta jam kerja hanya dalam satu tahun berkat AI untuk tugas-tugas rutin seperti pencarian dan ringkasan data. Pendekatan ini memungkinkan konsultan manusia fokus pada pekerjaan yang lebih kompleks, kreatif, dan bernilai tinggi bagi klien.

Meski demikian, Sternfels menegaskan bahwa adopsi AI tidak menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di perusahaannya. Sebaliknya, AI justru menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi jumlah karyawan manusia secara signifikan. Model bisnis konsultasi pun mulai bergeser dari sekadar penyedia jasa menjadi lebih berorientasi pada hasil (outcomes-based) dengan dukungan teknologi canggih.

Pernyataan McKinsey ini menjadi sorotan karena perusahaan ini selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling agresif mengadopsi AI di industri jasa profesional. Beberapa kompetitor seperti firma Big 4 juga mulai meluncurkan inisiatif serupa, meski skala McKinsey saat ini masih yang terdepan.

Di sisi lain, CEO BlackRock Larry Fink memberikan pandangan yang lebih kritis terhadap dampak AI terhadap pasar kerja. Pada BlackRock’s 2026 Infrastructure Summit, Fink memperingatkan bahwa angkatan lulusan perguruan tinggi tahun 2026 akan menghadapi pasar kerja yang sangat sulit. “Saya khawatir ketika lulusan tahun ini memasuki dunia kerja, kita bisa melihat tingkat pengangguran tertinggi di kalangan mereka dalam beberapa tahun terakhir — bahkan tanpa resesi,” kata Fink.

Menurutnya, AI mengubah lanskap pekerjaan dengan sangat cepat dan mengganggu banyak posisi entry-level white-collar seperti analisis data, keuangan, konsultasi, dan administrasi. “AI akan mendisrupsi banyak jenis pekerjaan tersebut,” ujar Fink. Namun, ia juga menambahkan sisi positif: AI menciptakan lapangan pekerjaan baru, terutama di bidang skilled trades (pekerjaan terampil) seperti teknisi listrik, plumbing, HVAC, dan konstruksi infrastruktur AI (data center). Sayangnya, tenaga kerja saat ini, termasuk lulusan baru, belum siap mengisi peluang tersebut karena kesenjangan keterampilan.

Fenomena McKinsey ini mencerminkan tren besar transformasi dunia kerja di era AI. Banyak perusahaan kini melihat AI bukan sebagai pengganti, melainkan mitra yang memperkuat kemampuan manusia. Namun, hal ini juga menuntut adaptasi cepat dari pekerja dan sistem pendidikan agar tidak tertinggal. Di masa depan, kemampuan berkolaborasi dengan AI, berpikir kritis, kreativitas, dan keterampilan teknis khusus akan menjadi kunci sukses di pasar kerja yang semakin kompetitif.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi