Melihat Celah Bisnis dari Pengolahan Limbah Batik

9/30/20263 min baca

Melihat Celah Bisnis dari Pengolahan Limbah Batik
Melihat Celah Bisnis dari Pengolahan Limbah Batik

Surakarta, 30 September 2026 - Industri batik Indonesia dikenal sebagai warisan budaya yang kaya, tetapi di balik keindahannya tersimpan tantangan lingkungan yang cukup besar. Proses produksi batik, terutama pewarnaan dan pemotongan kain, menghasilkan limbah kain perca dalam jumlah signifikan. Banyak pelaku usaha yang membuang sisa-sisa tersebut. Namun, Dewi Astuti justru melihat peluang di balik limbah itu.

Ia membangun merek Ghawean Dewe pada 2017 dengan fokus mengolah batik menjadi pakaian dan aksesori untuk anak hingga remaja. Nama “Ghawean Dewe” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “buatan sendiri”, diambil dari panggilan akrab Dewi. Bisnisnya mengusung konsep sustainable batik dan zero waste. Alih-alih membuang sisa produksi, Dewi memanfaatkan kain perca hingga potongan terkecil menjadi produk baru yang bernilai jual.

Salah satu produk unggulannya adalah boneka batik yang diolah dari kain perca. Boneka tersebut bahkan menarik minat pembeli dari Jepang saat pameran Festival UMKM Merdeka. Selain boneka, sisa kain diubah menjadi kalung anak, tas, aksesori, hingga perlengkapan ibadah seperti mukena dan sajadah. Produk-produk ini telah memiliki sertifikat SNI sehingga tetap aman dan nyaman digunakan meskipun berasal dari limbah.

Awal Mula dari Keinginan Mandiri

Gagasan bisnis ini berawal jauh sebelum Dewi serius masuk dunia batik. Saat masih kuliah, ia membantu menjual produk kain buatan temannya karena tidak ingin hanya bergantung pada uang kiriman orang tua. Setelah lulus dan bekerja sebagai pegawai swasta, hasrat berbisnisnya tidak pernah surut. Bersama suami, ia melakukan riset pasar dan akhirnya memutuskan fokus pada pakaian batik anak. Pada 2017, Dewi meninggalkan pekerjaannya dan serius membangun Ghawean Dewe dengan pasokan kain dari perajin di Pekalongan.

Awalnya, ia membuka toko di Thamrin City, Jakarta, pada periode 2017–2019. Seiring waktu, usaha berkembang dengan membuka outlet di Pacific Place Mall dan Alun-Alun Grand Indonesia. Rentang harga produknya kini berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp350.000, menjadikannya terjangkau bagi berbagai kalangan.

Lebih dari Sekadar Produk: Pemberdayaan dan Keberlanjutan

Konsep zero waste tidak hanya menjadi strategi efisiensi bahan baku, tetapi juga identitas merek. Dewi menekankan bahwa produk Ghawean Dewe dirancang agar bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Pakaian anak, misalnya, bisa “dilungsurkan” kepada adik atau saudara, demikian pula boneka dan aksesori lainnya. Prinsip berkelanjutan ini membuat produknya memiliki nilai lebih di mata konsumen yang semakin peduli lingkungan.

Selain itu, Ghawean Dewe juga menjalankan misi sosial. Usaha ini memberdayakan ibu rumah tangga, pensiunan, hingga pemuda di sekitar Jakarta untuk berkarya dari rumah. Mereka mendapat pelatihan membatik, menjahit, dan pengembangan produk, sehingga memperoleh keterampilan sekaligus penghasilan tambahan.

Dewi kemudian memperluas perannya menjadi pendamping UMKM melalui program Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) milik PT HM Sampoerna Tbk. Melalui program ini, ia terpilih mengikuti Training of Trainer bersama puluhan pelaku UMKM lain. Pengalaman tersebut membantunya memperluas jaringan, mengaktifkan kembali pemasaran digital, dan membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk ekspor ke Malaysia, Thailand, Australia, dan Hong Kong.

Pelajaran bagi Pelaku Usaha

Perjalanan Ghawean Dewe menunjukkan bahwa bisnis berkelanjutan tidak harus dimulai dari teknologi mahal atau investasi besar. Dengan kreativitas, limbah produksi yang sebelumnya dianggap sampah dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Efisiensi bahan baku sekaligus menjadi pembeda di pasar yang semakin kompetitif.

Bagi pelaku usaha, kisah Dewi Astuti menjadi pengingat bahwa peluang bisnis sering kali muncul dari masalah yang diabaikan banyak orang. Limbah batik yang selama ini menjadi beban lingkungan, di tangannya berubah menjadi sumber pendapatan, identitas merek, dan sarana pemberdayaan masyarakat. Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap keberlanjutan, pendekatan zero waste seperti ini bukan hanya relevan, tetapi juga semakin dibutuhkan.

Dewi Astuti membangun Ghawean Dewe sejak 2017 dengan konsep sustainable batik dan zero waste. Ia mengubah kain perca menjadi pakaian anak, boneka, aksesori, hingga perlengkapan ibadah. Produknya dijual di Thamrin City, Pacific Place, dan Alun-Alun Grand Indonesia dengan harga Rp50.000–Rp350.000. Melalui SETC, ia juga memberdayakan UMKM lain. Bisnis ini membuktikan bahwa limbah produksi bisa menjadi peluang ekonomi dan identitas merek yang kuat.

Image Source: Kompas Money

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi