Membaca Industri Sepatu RI dari Sisi yang Berbeda: Perang Pasar Ekspor

8/15/20262 min baca

sneakers lot
sneakers lot

Surakarta, 15 Agustus 2026 - Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki Indonesia sedang mencatat momentum positif. Pada kuartal II-2026, sektor ini tumbuh 11,30% secara tahunan, menjadi capaian tertinggi dalam 15 kuartal terakhir. Angka tersebut memang terlihat menjanjikan bagi industri dalam negeri.

Namun, jika melihat lebih dalam, pertumbuhan itu belum sepenuhnya menggambarkan kondisi pelaku usaha yang sudah pulih secara merata. Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda menilai data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor alas kaki mulai memasuki fase ekspansi. Meski demikian, ekspansi tersebut tidak lantas membuat industri bisa bernapas lega.

Faktor Pendorong dan Tantangan

Rebound permintaan ekspor dan penyesuaian siklus global menjadi faktor penting di balik pertumbuhan saat ini. Ekspor alas kaki Indonesia ke sejumlah negara tujuan, termasuk Amerika Serikat, Belanda, Jepang, dan Australia, menunjukkan peningkatan. AS tetap menjadi pasar terbesar, menyumbang sekitar sepertiga total ekspor.

Akan tetapi, industri sepatu Indonesia masih berada dalam fase wait and see. Ketidakpastian geopolitik, kenaikan biaya produksi, hingga kebijakan perdagangan negara tujuan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tekanan terbesar datang dari harga bahan baku yang naik, bahkan disebut bisa mencapai 30%–40%.

Di sisi lain, eksportir juga harus menghadapi persoalan restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) serta tarif perdagangan Amerika Serikat yang berada di kisaran 10%–19%. Tarif tersebut membuat Indonesia harus berhadapan langsung dengan negara pesaing seperti India, Kamboja, Vietnam, dan Bangladesh. Ketiganya kini sama-sama berupaya memperbesar porsi ekspor ke AS.

Peluang dari Pasar Eropa

Persaingan ketat di pasar AS bukan berarti peluang tertutup. Justru, terbukanya pasar Eropa melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa menjadi angin segar. Jika akses tarif 0% dapat terealisasi pada awal 2027, eksportir Indonesia berpeluang mendapatkan pasar baru yang lebih luas.

Produk alas kaki termasuk salah satu komoditas yang diuntungkan dari liberalisasi tarif hampir 98% pos tarif Uni Eropa. Langkah ini juga dapat mengurangi ketergantungan industri terhadap pasar tertentu, khususnya Amerika Serikat.

Investasi dan Prospek ke Depan

Industri alas kaki juga masih menarik investasi. Pada triwulan I 2026 saja, investasi di sektor ini mencapai Rp5,83 triliun. Sepanjang 2025, realisasi investasi bahkan tembus Rp25,83 triliun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha masih melihat prospek jangka panjang, meski tantangan jangka pendek cukup berat.

Bagi industri padat karya seperti sepatu, menjaga daya saing menjadi sangat penting. Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja langsung dan jutaan orang dalam rantai pasoknya. Pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya berdampak pada angka ekspor, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat.

Kesimpulan

Pertumbuhan 11,30% di kuartal II-2026 menjadi sinyal positif, tetapi belum menjadi jaminan pemulihan yang merata. Industri sepatu Indonesia sedang berada di persimpangan: di satu sisi menghadapi tekanan biaya dan persaingan global, di sisi lain memiliki peluang besar dari perluasan pasar Eropa. Kemampuan mengelola tantangan internal sekaligus memanfaatkan peluang eksternal akan menentukan apakah momentum saat ini bisa berlanjut menjadi pertumbuhan yang lebih stabil dan inklusif.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi