Meski Kekayaannya Tembus US$834 Miliar, Elon Musk Tegaskan Uang Tak Bisa Beli Kebahagiaan


Surakarta, 9 Februari 2026 - Elon Musk, miliarder pemilik Tesla, SpaceX, dan platform X, kembali membuat pernyataan yang memicu perdebatan luas di media sosial dengan mengakui bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, meskipun kekayaannya kini mencapai US$834 miliar atau sekitar Rp13.500 kuadriliun (berdasarkan kurs Rp16.200 per dolar AS pada Februari 2026). Pernyataan ini disampaikan Musk melalui posting di X pada 5 Februari 2026, di mana ia menulis, "Whoever said 'money can't buy happiness' really knew what they were talking about 😔," disertai emoji sedih yang menambah nada reflektif. Postingan ini langsung viral, ditonton lebih dari 96 juta kali dan memicu ribuan komentar, dari empati hingga sarkasme, seperti pengguna yang bercanda meminta "bagian dari uang tidak bahagia itu." Musk tidak menjelaskan konteks pribadi di balik pernyataannya, tapi ini bukan pertama kalinya ia membahas topik ini, mengingat kehidupan pribadinya yang penuh kontroversi, termasuk perceraian berulang dan tuntutan hukum.
Kekayaan Musk yang luar biasa ini sebagian besar berasal dari valuasi SpaceX yang mencapai US$800 miliar usai tender offer akhir 2025, ditambah saham Tesla yang naik 25% sepanjang tahun berkat kemajuan Robotaxi dan Optimus. Namun, meski menjadi orang terkaya di dunia menurut Forbes Real-Time Billionaires pada Februari 2026—melampaui Jeff Bezos (US$220 miliar) dan Mark Zuckerberg (US$210 miliar)—Musk sering kali mengeluhkan bahwa uang tidak membawa kepuasan batin. Dalam wawancara dengan Business Insider pada 6 Februari 2026, Musk disebut sebagai contoh paradoks kekayaan: "Research shows he's both right and wrong," di mana studi dari Harvard menunjukkan bahwa uang bisa beli kenyamanan tapi tidak kebahagiaan sejati setelah mencapai level tertentu, sekitar US$75.000 per tahun untuk kebahagiaan emosional. Mark Cuban, miliarder Shark Tank, merespons tweet Musk dengan bilang "it's not so simple," menambahkan bahwa uang bisa beli waktu dan pengalaman yang mendekati kebahagiaan, seperti yang dilaporkan Fortune pada 6 Februari 2026. Bill Ackman juga setuju, tapi menekankan filantropi sebagai cara miliarder temukan makna.
Pernyataan Musk ini memicu diskusi global tentang kekayaan dan kesejahteraan. Dalam posting Instagram dari Firstpost pada 6 Februari 2026, Musk digambarkan sebagai "richest but unhappy," dengan reaksi netizen dari empati hingga permintaan donasi. Ekonom seperti Paul Krugman di New York Times pada 7 Februari 2026 menyoroti bahwa meski Musk kaya, tekanan dari tuntutan hukum seperti kasus Twitter (X) dan kontroversi politik bisa jadi sumber ketidakbahagiaan. Di Indonesia, berita ini menjadi bahan refleksi bagi pengusaha, di mana survei dari Kemenkop UKM 2025 menunjukkan bahwa 60% miliarder lokal merasa kebahagiaan bukan dari uang tapi keluarga dan dampak sosial. Meski demikian, pernyataan Musk menjadi pengingat bahwa kepuasan batin dan ketenangan tidak bisa dibeli, bahkan dengan kekayaan sebesar itu.
