Meta Mulai Bayar Kreator Konten dengan Stablecoin USDC di Facebook dan Instagram

5/2/20262 min baca

a white and blue square with a blue and white facebook logo
a white and blue square with a blue and white facebook logo

Surakarta, 2 Mei 2026 - Meta Platforms, induk perusahaan Facebook, Instagram, dan WhatsApp, resmi meluncurkan skema pembayaran menggunakan stablecoin USD Coin (USDC) untuk para kreator konten di platformnya. Langkah ini menandai kembalinya raksasa media sosial tersebut ke dunia kripto setelah kegagalan proyek stablecoin sendiri beberapa tahun lalu.

Sistem pembayaran baru ini diproses melalui mitra pembayaran Stripe dan saat ini hanya tersedia bagi kreator terpilih di Kolombia dan Filipina. Pembayaran dilakukan dalam bentuk USDC di dua jaringan blockchain, yaitu Solana dan Polygon. Kreator dapat menghubungkan dompet kripto eksternal yang kompatibel (seperti MetaMask, Phantom, atau Binance) untuk menerima penghasilan langsung.

Tujuan utama skema ini adalah mempercepat proses pembayaran lintas negara dan memangkas biaya transfer yang biasanya tinggi pada metode fiat tradisional. Stablecoin seperti USDC yang nilainya dipatok 1:1 dengan dolar AS juga mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar, sehingga sangat menguntungkan bagi kreator di negara berkembang yang sering menghadapi kendala konversi mata uang. Meta tidak menyediakan layanan konversi otomatis USDC ke mata uang lokal; kreator harus mengelola sendiri melalui exchange atau wallet yang mendukung.

Stripe berperan tidak hanya sebagai pemroses pembayaran, tetapi juga menangani pelaporan pajak terkait transaksi kripto. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi ekonomi kreator di platform Meta, yang pada 2025 saja telah membayar hampir US$3 miliar kepada kreator di seluruh dunia.

Ini merupakan kali pertama Meta benar-benar mengimplementasikan pembayaran kripto setelah kegagalan proyek ambisiusnya sebelumnya. Pada 2019, Meta (saat itu masih Facebook) meluncurkan rencana stablecoin bernama Libra (kemudian diganti Diem). Proyek itu bertujuan menciptakan mata uang digital global yang didukung oleh keranjang aset, tetapi menghadapi penolakan keras dari regulator Amerika Serikat dan Eropa karena kekhawatiran soal stabilitas keuangan, privasi, dan anti-pencucian uang. Akhirnya, proyek tersebut dihentikan pada 2022.

Sekarang, Meta memilih pendekatan yang lebih aman dengan memanfaatkan stablecoin pihak ketiga (USDC milik Circle) daripada menerbitkan aset sendiri. Perusahaan menegaskan bahwa ini bukan penerbitan stablecoin Meta, melainkan integrasi infrastruktur pembayaran modern.

Peluncuran ini mendapat sambutan positif di komunitas kripto karena menunjukkan adopsi mainstream stablecoin oleh perusahaan teknologi besar dengan miliaran pengguna. Solana dan Polygon dipilih karena menawarkan kecepatan transaksi tinggi dan biaya rendah, cocok untuk pembayaran skala besar. Analis melihat ini sebagai langkah awal yang bisa diperluas ke negara lain jika pilot berhasil.

Bagi kreator di Kolombia dan Filipina, fitur ini membuka peluang baru untuk menerima penghasilan lebih cepat dan efisien. Namun, tantangan tetap ada, seperti volatilitas kripto (meski USDC relatif stabil), pemahaman pajak, dan akses off-ramp ke mata uang fiat lokal.

Langkah Meta ini sejalan dengan tren besar adopsi kripto oleh perusahaan teknologi. Dengan lebih dari 3,5 miliar pengguna aktif harian di ekosistemnya, potensi dampaknya terhadap ekonomi kripto dan creator economy sangatlah signifikan.