Militer AS Terpaksa Habiskan Rudal US$4 Juta untuk Hancurkan Satu Drone Iran Seharga US$20 Ribu

3/6/20262 min baca

Militer AS Terpaksa Habiskan Rudal US$4 Juta untuk Hancurkan Satu Drone Iran Seharga US$20 Ribu
Militer AS Terpaksa Habiskan Rudal US$4 Juta untuk Hancurkan Satu Drone Iran Seharga US$20 Ribu

Surakarta, 6 Maret 2026 – Perang antara Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran baru berjalan sekitar lima hari, namun sudah menunjukkan ketidakefisienan yang mencolok dalam strategi pertahanan AS. Untuk menghancurkan satu drone Shahed-136 buatan Iran yang harganya hanya sekitar US$20 ribu, militer AS terpaksa meluncurkan rudal pertahanan udara bernilai hingga US$4 juta per unit. Fenomena ini menjadi sorotan karena mencerminkan keunggulan Iran dalam perang asimetris, di mana senjata murah tapi mematikan berhasil memaksa superpower seperti AS mengeluarkan biaya yang sangat tidak sebanding.

Drone Shahed-136, yang sering disebut “kamikaze drone”, adalah senjata andalan Iran yang sudah terbukti efektif dalam berbagai konflik, termasuk perang Rusia-Ukraina. Dengan harga produksi massal hanya US$20.000–25.000 per unit, drone ini mampu terbang rendah, sulit dideteksi radar, dan menyerang target dengan presisi tinggi. Menurut data yang dirilis oleh analis militer dari Royal United Services Institute (RUSI) London, Iran telah memproduksi puluhan ribu unit Shahed-136 sejak 2022, sehingga biaya per unit semakin murah. Sementara itu, rudal pertahanan udara yang digunakan AS, seperti MIM-104 Patriot PAC-3 atau SM-2, memiliki harga per unit mencapai US$3,5–4 juta. Artinya, satu rudal AS bisa menghabiskan biaya 200 kali lipat dibandingkan satu drone Iran.

Serangan drone Iran dalam beberapa hari terakhir telah menghantam berbagai target strategis AS di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer di Bahrain (markas Armada Kelima), Kuwait (Camp Arifjan dan Ali Al Salem Air Base), Irak (Bandara Erbil), Qatar (Al Udeid Air Base), serta area logistik di Pelabuhan Jebel Ali, UEA. Citra satelit dan video yang beredar menunjukkan kerusakan signifikan pada radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar dan terminal komunikasi satelit di Bahrain. Bahkan, beberapa drone berhasil menembus pertahanan dan mengenai infrastruktur energi serta bangunan sipil di sekitar pangkalan.

Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Jenderal Michael Kurilla mengakui dalam briefing tertutup bahwa intersepsi drone Iran “sangat mahal dan tidak berkelanjutan” dalam jangka panjang. Laporan internal Pentagon yang bocor ke media menyebutkan bahwa AS sudah menghabiskan lebih dari US$2 miliar hanya untuk pertahanan udara dalam lima hari pertama konflik. Hal ini memicu kritik dari anggota Kongres AS, terutama dari Partai Republik, yang mempertanyakan strategi pertahanan yang bergantung pada rudal mahal untuk menghadapi ancaman murah.

Di sisi lain, Iran dengan bangga mengklaim bahwa strategi “swarm attack” (serangan massal drone) berhasil memaksa AS menguras sumber daya. IRGC menyatakan bahwa mereka masih memiliki stok ribuan drone siap diluncurkan, sementara produksi terus berjalan di pabrik bawah tanah. Pakar pertahanan dari International Institute for Strategic Studies (IISS) menyebut ini sebagai contoh klasik “cost imposition strategy” — Iran memaksa lawan menghabiskan dana besar untuk menangkis ancaman kecil.

Situasi ini semakin memperburuk tekanan ekonomi AS di tengah konflik yang masih berlangsung. Harga minyak Brent sudah melonjak lebih dari 9% sejak serangan dimulai, dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun drastis. Di Indonesia, dampaknya juga terasa melalui kenaikan harga BBM dan inflasi impor.

Perang ini membuktikan bahwa di era modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh teknologi paling mahal, melainkan oleh efisiensi dan inovasi yang cerdas. Iran berhasil menunjukkan bahwa drone murah bisa menjadi senjata yang sangat merepotkan bagi militer superpower seperti AS.

Sumber gambar: Bloomberg