Mojtaba Khamenei Tolak Damai Trump: “Kami Akan Balas Darah Setiap Martir”


Surakarta, 13 Maret 2026 – Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, secara tegas menolak tawaran gencatan senjata dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pidato pertamanya yang disiarkan secara nasional pada Jumat (13 Maret 2026), Mojtaba bersumpah akan melanjutkan perang balas dendam terhadap AS dan Israel yang telah menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari lalu.
“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan menahan diri untuk membalaskan darah para martir Anda. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terbatas pada kemartiran pemimpin besar Revolusi; melainkan, setiap anggota bangsa yang gugur di tangan musuh merupakan kasus terpisah dalam berkas pembalasan,” tegas Mojtaba Khamenei, seperti dilansir berbagai media Iran dan internasional.
Ia juga mengeluarkan ancaman keras kepada negara-negara sekutu AS. Mojtaba meminta semua negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika untuk segera menutup fasilitas tersebut, atau Iran akan terus menyerang markas-markas tersebut. Selain itu, Selat Hormuz — jalur vital pengiriman 20% minyak dunia — akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan ekonomi terhadap musuh Iran.
Penolakan ini langsung menjawab sinyal damai yang disampaikan Trump beberapa hari lalu. Trump sempat menyatakan harapan agar perang segera berakhir, meskipun sebelumnya ia memperkirakan konflik ini bisa berlangsung hingga satu bulan. “Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu (perang) tidak terjadi!” tulis Trump di Truth Social. Namun, dengan naiknya Mojtaba Khamenei — figur garis keras yang selama ini beroperasi di balik layar dan memiliki pengaruh kuat di IRGC — Iran tampaknya memilih jalur konfrontasi total.
Mojtaba Khamenei, yang terpilih secara bulat oleh Majelis Ahli pada 9 Maret 2026, dikenal sebagai pemimpin yang lebih radikal dibandingkan ayahnya. Ia pernah terlibat dalam operasi keamanan internal dan memiliki jaringan luas di kalangan milisi pro-Iran di Yaman, Lebanon, dan Irak. Analis dari International Crisis Group menilai kepemimpinan Mojtaba akan membuat kebijakan luar negeri Iran semakin agresif dan sulit untuk diajak kompromi.
Saat ini, Iran terus melancarkan serangan balasan ke fasilitas militer AS di Teluk Persia. Harga minyak Brent sudah melonjak hampir 30% sejak akhir Februari, sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun drastis hingga 70%. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri kembali menyatakan keprihatinan mendalam dan mengimbau semua pihak menahan diri agar konflik tidak meluas menjadi perang regional yang lebih besar.
Dengan sumpah balas dendam Mojtaba Khamenei, peluang gencatan senjata dalam waktu dekat semakin tipis. Konflik ini kini bukan hanya soal nuklir, melainkan sudah menjadi perang total yang melibatkan harga darah dan ekonomi global.
