Nyaris Bangkrut, Arab Saudi Bangkit Berkat Penemuan Emas Hitam
Surakarta, 29 Oktober 2026 - Arab Saudi sempat menghadapi ancaman kemiskinan berat setelah berdiri sebagai kerajaan modern pada 1932. Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud harus mencari cara agar kerajaan barunya bisa bertahan. Tantangannya tidak mudah. Sekitar 95 persen wilayah Saudi berupa gurun tandus dengan iklim ekstrem panas dan sumber air yang sangat terbatas. “Bagaimana negara bisa berkembang jika air saja sulit didapat?” Begitulah kira-kira kegelisahan Raja Abdulaziz saat itu.
Ia kemudian mendatangkan insinyur asing untuk mencari sumber air. Ahli geologi dan pertambangan Amerika Serikat, Karl Twitchell, memimpin pencarian. Pengeboran awal di wilayah barat gagal menemukan cadangan air artesis yang memadai. Namun, Twitchell juga mencatat adanya indikasi mineral dan potensi minyak. Harapan baru muncul setelah Iran berhasil menemukan minyak. Raja Abdulaziz pun menduga wilayahnya memiliki potensi serupa dan kembali menginstruksikan pencarian air sekaligus minyak.
Pada 29 Mei 1933, kerajaan menandatangani perjanjian konsesi dengan Standard Oil Company of California (SOCAL). Anak perusahaan bernama California Arabian Standard Oil Company (CASOC) dibentuk untuk mengelola eksplorasi. Pengeboran dimulai pada 1935 di wilayah timur, khususnya area Dammam Dome. Tim yang dipimpin geolog Max Steineke menghadapi serangkaian kegagalan. Beberapa sumur tidak menghasilkan, dan perusahaan sempat ragu untuk melanjutkan.
Steineke bersikeras agar pengeboran dilakukan lebih dalam. Pada 3 Maret 1938 (beberapa sumber menyebut 4 Maret), sumur Dammam No. 7 berhasil menyemburkan minyak dalam jumlah komersial pada kedalaman sekitar 1.440 meter. Produksi awal mencapai sekitar 1.500 barel per hari dan terus meningkat. Sumur itu kemudian dijuluki “Prosperity Well” atau Sumur Kemakmuran. Penemuan tersebut menjadi titik balik sejarah ekonomi Arab Saudi.
Kerajaan kemudian memperkuat kerja sama dengan perusahaan Amerika. CASOC berkembang menjadi Arabian American Oil Company (Aramco). Pendapatan dari minyak memungkinkan kerajaan membangun infrastruktur, sistem pendidikan, kesehatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Dari negara yang nyaris kekurangan sumber daya, Arab Saudi berubah menjadi salah satu produsen minyak terbesar dunia dengan cadangan yang sangat besar.
Namun, ketergantungan pada minyak juga membawa risiko. Harga minyak yang fluktuatif membuat kerajaan menyadari pentingnya diversifikasi. Melalui Vision 2030 yang diluncurkan pada 2016, Arab Saudi secara aktif mengembangkan sektor non-minyak, terutama pariwisata, hiburan, teknologi, dan energi terbarukan. Sektor pariwisata menjadi salah satu pilar utama. Kerajaan membuka visa elektronik untuk puluhan negara, mengembangkan destinasi seperti AlUla, proyek Red Sea, dan NEOM, serta meningkatkan fasilitas haji dan umrah.
Hasilnya cukup mencolok. Target 100 juta pengunjung tahunan yang semula ditetapkan untuk 2030 sudah terlampaui jauh lebih cepat. Pariwisata kini menjadi kontributor penting bagi perekonomian dan diharapkan bisa setara atau mendekati peran minyak dalam beberapa tahun ke depan.
Kisah Arab Saudi menunjukkan bagaimana satu penemuan sumber daya alam dapat mengubah nasib sebuah negara. Dari tantangan gurun tandus dan ancaman kemiskinan, penemuan “emas hitam” pada 1938 membuka jalan menuju kemakmuran. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan kemakmuran itu berkelanjutan melalui ekonomi yang lebih beragam.
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi