OpenAI Tuduh Elon Musk dan Mark Zuckerberg Berkoordinasi Lakukan Kampanye Fitnah
Surakarta, 7 Mei 2026 – OpenAI secara resmi menuduh CEO Tesla dan xAI, Elon Musk, serta CEO Meta, Mark Zuckerberg, bersekongkol untuk melemahkan perusahaan melalui kampanye fitnah dan serangan terkoordinasi. Tuduhan ini disampaikan dalam surat resmi yang dikirimkan OpenAI kepada Jaksa Agung California dan Delaware pada awal April 2026.
Dalam pernyataan yang dimuat di laman resmi OpenAI, perusahaan yang dipimpin Sam Altman itu menyebut bahwa Musk memimpin kampanye fitnah dengan bantuan perantaranya, dan ada bukti koordinasi dengan Zuckerberg untuk berulang kali merusak misi OpenAI. OpenAI menggambarkan tindakan Musk didorong oleh rasa iri, penyesalan karena meninggalkan perusahaan, serta upaya untuk menghambat kemajuan OpenAI menuju Artificial General Intelligence (AGI) yang bermanfaat bagi umat manusia.
Konflik ini bermula dari sejarah pendirian OpenAI pada 2015. Musk adalah salah satu co-founder dan donor awal yang menyumbangkan sekitar US$38 juta. Ia sempat ingin mengambil kendali lebih besar atas perusahaan, namun perbedaan visi menyebabkan Musk mundur pada 2018. Setelah itu, OpenAI berkembang pesat berkat ChatGPT yang meledak popularitasnya sejak akhir 2022, sementara Musk mendirikan xAI sebagai kompetitor langsung.
OpenAI kini meminta penyelidikan resmi terhadap perilaku anti-kompetitif Musk dan pihak-pihak terkait. Surat tersebut menyebutkan dugaan “opposition research” (penggalian informasi negatif) terhadap Sam Altman dan serangkaian serangan yang bertujuan menghambat kemampuan OpenAI mengembangkan AGI. Chris Lehane, Chief of Global Affairs OpenAI, menyebut tindakan dua orang terkaya dan paling berpengaruh di dunia ini “sangat patut dipertanyakan dan layak diselidiki”.
Latar Belakang Gugatan dan Bukti Koordinasi
Tuduhan terbaru ini muncul di tengah persidangan besar Musk versus OpenAI yang sedang berlangsung di pengadilan federal Oakland, California. Musk menggugat OpenAI, Sam Altman, dan Greg Brockman, menuduh mereka mengkhianati misi nonprofit awal perusahaan dengan beralih ke model for-profit dan bermitra dengan Microsoft. Musk menuntut ganti rugi hingga ratusan miliar dolar serta pemecatan Altman dan Brockman.
Sebaliknya, OpenAI membalas bahwa gugatan Musk hanyalah “sour grapes” (dendam karena kalah) dan upaya untuk melemahkan kompetitor xAI. Dokumen pengadilan yang terbuka mengungkap komunikasi Musk dengan Zuckerberg, termasuk pembicaraan tentang potensi joint bid untuk aset OpenAI dan koordinasi terkait isu lain.
Meta sendiri tengah agresif mengembangkan model AI Llama yang open-source, menjadikannya kompetitor langsung OpenAI di ranah AI generatif.
Reaksi dan Dampak
Hingga saat ini, baik Musk maupun Zuckerberg belum memberikan komentar publik langsung atas tuduhan terbaru OpenAI. Persidangan Musk vs OpenAI masih berlangsung dan menjadi salah satu kasus paling signifikan di industri teknologi, karena berpotensi memengaruhi tata kelola perusahaan AI, pendanaan, serta arah pengembangan kecerdasan buatan di masa depan.
Kasus ini mencerminkan persaingan sengit di antara raksasa teknologi untuk mendominasi era AI. Sementara OpenAI menekankan misi “beneficial AGI”, Musk berulang kali memperingatkan risiko eksistensial AI dan mendirikan xAI dengan tujuan “memahami alam semesta”.
