Oracle PHK 30 Ribu Karyawan Secara Global: Tekanan Biaya AI dan Penurunan Saham Jadi Pemicu Utama

4/1/20262 min baca

logo
logo

Surakarta, 1 April 2026 - Oracle baru saja mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sekitar 30.000 karyawan di seluruh dunia. Keputusan ini menjadi salah satu PHK terbesar di industri teknologi selama 12 bulan terakhir dan mencerminkan tekanan berat yang dihadapi perusahaan raksasa software tersebut di tengah persaingan ketat di era kecerdasan buatan (AI).

PHK ini paling banyak menyasar divisi teknis dan pendukung, termasuk engineer, pengembang perangkat lunak, product management, serta tim customer support. Unit yang paling terdampak adalah Oracle Cloud Infrastructure (OCI) dan Fusion Cloud Applications. Menurut sumber internal yang dikutip CNBC pada 25 Maret 2026, langkah ini diambil untuk memangkas biaya operasional yang membengkak akibat investasi besar-besaran Oracle dalam infrastruktur AI dan data center.

Saham Oracle turun sekitar 25% sepanjang tahun ini, jauh lebih dalam dibandingkan rata-rata perusahaan teknologi besar lainnya. Investor khawatir pengeluaran Oracle untuk AI terlalu agresif tanpa hasil yang cepat terlihat di laporan keuangan. Larry Ellison, pendiri dan CTO Oracle, sebelumnya menyatakan komitmen perusahaan untuk menjadi salah satu pemain utama di cloud AI, tetapi pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin dengan strategi tersebut.

Karyawan yang terdampak di Amerika Serikat akan menerima pesangon minimal empat minggu gaji pokok ditambah satu minggu untuk setiap tahun masa kerja, seperti yang dilaporkan Business Insider. Namun, banyak karyawan mengeluhkan bahwa paket pesangon tersebut dirasa kurang memadai mengingat biaya hidup yang tinggi di Silicon Valley dan kota-kota teknologi lainnya.

PHK massal Oracle ini bukan kasus terisolasi. Beberapa waktu lalu, Amazon juga melakukan pemangkasan sekitar 16.000 karyawan, sementara Intel pada April 2025 memangkas hingga 25.000 pekerja untuk merampingkan operasi dan fokus pada produksi chip AI. Fenomena ini menunjukkan tren yang lebih luas di industri teknologi: perusahaan-perusahaan besar sedang berusaha menyeimbangkan antara investasi mahal di AI dengan kebutuhan menjaga profitabilitas.

Larry Fink, CEO BlackRock, baru-baru ini juga memperingatkan bahwa lulusan tahun 2026 akan menghadapi pasar kerja yang sangat sulit karena disrupsi AI. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa otomatisasi dan efisiensi berbasis AI akan terus mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia di banyak sektor.

Di tengah PHK besar-besaran ini, Oracle tetap mengklaim bahwa perusahaan sedang berada dalam fase transformasi menuju pemimpin cloud dan AI. Namun, para analis mempertanyakan apakah langkah penghematan ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor dalam waktu dekat.