Pengusaha China Kehilangan Rp5 Miliar Akibat Ditipu Teman yang Menyamar Jadi Dukun


Surakarta, 28 Oktober 2026 - Wang, seorang pengusaha di Shanghai, China, harus kehilangan hampir seluruh hartanya setelah percaya kepada sosok yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit dan mengubah nasibnya. Kasus ini bermula dari perkenalan dengan seorang teman pada 2021. Temannya, Zhu, memperkenalkan Wang kepada sosok yang disebut “Master”. Berbekal cerita soal jimat pembawa keberuntungan dan kemampuan menyembuhkan, Wang tertarik karena berharap penyakitnya bisa sembuh.
Komunikasi mereka berlangsung intens melalui aplikasi WeChat. Wang kemudian mentransfer 400.000 yuan atau sekitar US$55.000 untuk membeli jimat dan mengikuti ritual tertentu. Salah satu ritual yang diminta terkesan aneh: Wang harus menghabiskan bebek pedas seberat 1,5 kilogram, lima bungkus biji bunga matahari, dan lima bungkus mi pedas. Ia diminta mengikuti semua perintah agar keberuntungan datang dan penyakitnya hilang.
Ketika kesehatannya tak kunjung membaik, Wang kembali meminta bantuan. Ia bahkan diminta pergi ke Thailand dan tinggal bersama Zhu yang disebut bisa membantu membuang kesialan. Wang menuruti arahan itu hingga menjual rumah dan toko serta mengambil utang. Total uang yang dihabiskannya untuk mengikuti arahan sang Master mencapai US$278.000 atau sekitar Rp5 miliar.
Kecurigaan akhirnya muncul setelah kondisi Wang tak membaik dan hartanya terkuras habis. Ia melapor ke polisi. Penyelidikan kemudian mengungkap bahwa sosok Master tersebut ternyata Zhu sendiri. Jimat yang dibeli Wang ternyata hanya barang biasa dari toko daring. Atas perbuatannya, Zhu dijatuhi hukuman 12 tahun penjara dan denda 200.000 yuan.
Kasus ini mencerminkan pola penipuan spiritual yang masih sering terjadi di China. Banyak pelaku memanfaatkan kerentanan korban yang sedang sakit atau mengalami kesulitan hidup. Mereka membangun kepercayaan melalui teman dekat, lalu perlahan meminta uang untuk jimat, ritual, atau “penyucian” kesialan. Escalasi biasanya dimulai dari jumlah kecil hingga korban menjual aset dan berutang.
Pihak berwenang China telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap janji kesembuhan atau keberuntungan yang datang melalui perantara tidak resmi. Komunikasi via aplikasi seperti WeChat sering digunakan karena memudahkan pelaku menjaga jarak dan mengontrol narasi. Dalam banyak kasus serupa, korban baru menyadari penipuan setelah kerugian sudah sangat besar.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat umum, kisah Wang menjadi pengingat keras. Ketika seseorang berada dalam kondisi rentan—baik karena penyakit, tekanan bisnis, maupun masalah pribadi—janji cepat sembuh atau rezeki melimpah justru perlu dicurigai. Keputusan finansial besar sebaiknya tidak didasarkan pada ritual atau sosok yang mengaku memiliki kekuatan gaib, melainkan pada pertimbangan rasional dan verifikasi yang jelas.
Kasus ini juga menunjukkan pentingnya segera melapor ke pihak berwenang begitu muncul keraguan. Semakin lama korban terus mengikuti arahan pelaku, semakin besar potensi kerugian yang diderita.
Image Source: CNBC
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi