Petinggi Google dan Anthropic Wanti-wanti: AI Mulai Kurangi 40% Lowongan Pemula dan Magang

1/21/20262 min baca

a man writing on a piece of paper
a man writing on a piece of paper

Surakarta, 21 Januari 2026 - CEO Google DeepMind Demis Hassabis dan CEO Anthropic Dario Amodei menyuarakan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) mulai berdampak pada pasar kerja, khususnya posisi entry-level seperti pemula dan magang. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara bersama di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, pada 19 Januari 2026, di mana keduanya melihat bukti awal perlambatan perekrutan di perusahaan mereka sendiri. Hassabis menjelaskan bahwa tahun ini akan menjadi awal dari pengaruh AI terhadap pekerjaan junior, dengan tanda-tanda seperti penurunan lowongan internship dan entry-level karena otomatisasi tugas dasar. "Saya kira tahun ini kita akan melihat awal mula dampaknya pada level junior. Saya kira ada beberapa bukti, saya sendiri merasakannya, mungkin seperti perlambatan dalam perekrutan di bidang itu," ujar Hassabis, menekankan bahwa ini terasa di Google DeepMind terutama untuk peran pemrograman dan analisis data sederhana.

Amodei menambahkan bahwa di Anthropic, perusahaan AI yang bersaing dengan DeepMind, mereka sudah merasakan kebutuhan tenaga kerja lebih sedikit di tingkat junior dan intermediate. "Kami butuh kurang orang, bukan lebih, di ujung junior dan bahkan intermediate," katanya, sambil mencatat bahwa AI seperti Claude milik Anthropic mulai menggantikan tugas repetitif yang biasa ditangani pemula. Keduanya sepakat bahwa meskipun AI belum menyebabkan pengangguran massal, dampaknya akan semakin terasa di luar software, seperti di bidang kreatif dan administrasi, di mana tugas entry-level mudah diotomatisasi.

Pernyataan ini selaras dengan laporan Future of Jobs Report 2025 dari WEF, yang dirilis pada April 2025, menyatakan bahwa 40% perusahaan global berencana mengurangi tenaga kerja untuk posisi yang bisa diotomatisasi oleh AI, sementara 85% perusahaan akan mengubah deskripsi pekerjaan karena teknologi ini. Laporan tersebut, berdasarkan survei terhadap 803 perusahaan di 45 negara, memprediksi bahwa AI akan menciptakan 97 juta pekerjaan baru pada 2025-2030, tapi juga menghilangkan 85 juta posisi, terutama di level junior seperti data entry dan customer service dasar. Di sisi lain, pekerjaan baru akan muncul di bidang AI ethics, data science, dan pengembangan robotika.

Debat ini semakin relevan di tengah kemajuan AI seperti ChatGPT dan Grok, yang telah mengurangi kebutuhan akan pekerja pemula di sektor tech. Menurut survei dari McKinsey Global Institute pada Juni 2025, 45% perusahaan tech AS telah memangkas lowongan internship hingga 30% karena AI mengambil alih tugas coding sederhana dan analisis. Di Indonesia, tren serupa mulai terasa, dengan perusahaan seperti Gojek dan Tokopedia mengintegrasikan AI untuk tugas administratif, sehingga lowongan magang di bidang data entry turun 20% pada 2025, menurut laporan Kementerian Ketenagakerjaan. Namun, Hassabis optimis bahwa AI akan menciptakan pekerjaan lebih bernilai, seperti pengembangan sistem etis, meskipun memerlukan reskilling bagi tenaga kerja muda.

Peringatan ini mendorong pemerintah dan perusahaan untuk mempersiapkan transisi, seperti program pelatihan AI yang digalakkan di Indonesia sejak 2025, dengan target 5 juta pekerja terampil pada 2030. Meski demikian, kekhawatiran tentang pengangguran pemuda tetap ada, dengan WEF memprediksi bahwa 23% pekerjaan global akan berubah dalam lima tahun ke depan karena AI.