Powell Sindir Keras Trump: Surat Panggilan DoJ Soal Renovasi Hanya Alasan Tekan Turunkan Suku Bunga

1/13/20262 min baca

donald trump dan jerome powell
donald trump dan jerome powell

Surakarta, 13 Januari 2026 - Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan bahwa bank sentral AS telah menerima surat panggilan grand jury dari Departemen Kehakiman (DoJ) yang mengancam dakwaan pidana terkait testimony-nya di Kongres tentang renovasi kantor Fed. Namun, Powell yakin bahwa ini bukan semata-mata masalah renovasi, melainkan upaya tekanan politik dari Presiden Donald Trump untuk mempengaruhi kebijakan suku bunga. Pernyataan ini disampaikan Powell melalui video resmi The Fed pada 11 Januari 2026, di mana ia menegaskan bahwa ancaman ini adalah konsekuensi dari keputusan The Fed yang independen, bukan mengikuti keinginan presiden. "Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari penetapan suku bunga oleh Federal Reserve berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang bermanfaat bagi publik, alih-alih mengikuti preferensi presiden," ujar Powell.

Insiden ini berawal dari testimony Powell di depan Senate Banking Committee pada Juni 2025, di mana ia membahas renovasi gedung Fed senilai US$2,5 miliar yang dikritik Trump sebagai pemborosan. DoJ mengirimkan subpoenas pada 9 Januari 2026, meminta dokumen terkait proyek tersebut dan menyelidiki apakah Powell memberikan informasi menyesatkan ke Kongres. Powell menyebut tindakan ini "unprecedented" dan bagian dari tekanan berkelanjutan Trump untuk memaksa The Fed menurunkan suku bunga lebih agresif, meskipun data ekonomi menunjukkan inflasi masih di atas target 2%. Ini adalah eskalasi dari konflik lama antara Trump dan Powell, di mana Trump berulang kali mengkritik Powell sebagai "incompetent" dan mengancam pemecatan sejak 2025 karena suku bunga yang dianggap terlalu tinggi.

Trump membantah keterlibatannya dalam penyelidikan DoJ, menyatakan dalam wawancara NBC News pada 11 Januari 2026 bahwa "saya tidak tahu apa-apa tentang itu," tapi tetap mengkritik Powell karena renovasi yang dianggap boros dan kebijakan suku bunga yang lambat. Sementara itu, beberapa senator Republik seperti Mitt Romney mengutuk tindakan DoJ sebagai serangan terhadap independensi The Fed, yang bisa merusak kepercayaan pasar. Analis dari Politico pada 11 Januari 2026 menilai ini sebagai "sharp escalation" dalam upaya Trump mengontrol The Fed, yang bisa memicu ketidakstabilan ekonomi jika independensi bank sentral terganggu. The New York Times melaporkan bahwa penyelidikan ini fokus pada apakah Powell berbohong tentang biaya renovasi, tapi Powell membalas bahwa ini hanyalah "pretext" untuk memaksa penurunan suku bunga sesuai keinginan Trump.

Dampak potensial dari konflik ini luas, karena The Fed memainkan peran kunci dalam stabilitas ekonomi global. Dengan suku bunga saat ini di 3,5%-3,75%, jeda pemangkasan pada Januari 2026 bisa memperkuat dolar AS, tapi juga menekan pertumbuhan jika tekanan politik berlanjut. Di Indonesia, hal ini bisa mempengaruhi rupiah dan inflasi impor, dengan BI memproyeksikan pertumbuhan 5% pada 2026 meski global melambat. Perdebatan ini menyoroti pentingnya independensi bank sentral, seperti yang ditekankan Powell: "Kebijakan moneter harus didasarkan pada data, bukan tekanan politik."