Prabowo Pernah Wanti-Wanti Perang Iran-AS Bisa Picu Perang Dunia Ketiga


Surakarta, 2 Februari 2026 - Presiden Indonesia Prabowo Subianto pernah memberikan peringatan serius tentang bahaya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga. Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis senior Najwa Shihab di Hambalang, Bogor, pada April 2025—sepuluh bulan sebelum eskalasi konflik saat ini semakin memanas. Dalam wawancara tersebut, Prabowo menekankan bahwa persaingan hegemoni global, termasuk masalah Iran, bukanlah hal main-main dan bisa menjadi pemicu konflik besar. "Perang, persaingan hegemoni yang sangat berbahaya yang bisa memicu perang dunia ketiga, ini tidak main-main, bener-bener. Saya pelajari tiap malam saya lihat, wow, this is very dangerous time. … Masalah Iran nanti kita (bisa picu) perang dunia ketiga," ujar Prabowo, seperti yang ditayangkan di kanal YouTube Mata Najwa pada Minggu (6 April 2025). Saat itu, Prabowo juga membahas pencapaian kabinetnya dalam 150 hari pertama, dan yakin bahwa dalam delapan bulan ke depan, akan ada terobosan besar untuk memperkuat ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.
Peringatan Prabowo ini semakin relevan dengan situasi terkini, di mana Iran melakukan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz pada 1 Maret 2026, yang diklaim milik AS dan Inggris. Menurut laporan BBC News pada hari yang sama, serangan ini menyebabkan salah satu kapal meledak, dengan korban tewas dan luka-luka di kalangan kru. Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) Iran mengaku bertanggung jawab, dengan alasan kapal-kapal tersebut melanggar larangan berlayar di selat tersebut. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital untuk 20% pasokan minyak dunia, kini ditutup oleh Iran, menyebabkan ratusan kapal tanker terjebak dan traffic kapal menurun drastis hingga 70%, seperti yang dianalisis The New York Times pada 1 Maret 2026. Perusahaan shipping besar seperti Maersk telah menghentikan transit dan reroute ke Afrika Selatan, memperlambat pasokan global.
Eskalasi ini berawal dari serangan gabungan AS-Israel ke Tehran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Khamenei dan memicu balasan Iran. Menurut Reuters pada 2 Maret 2026, Iran telah meluncurkan gelombang rudal ke Israel dan basis AS di Teluk, dengan korban sipil mencapai ratusan. Harga minyak Brent melonjak 10% ke US$82 per barel, sementara gas alam naik 25%, seperti dilaporkan Bloomberg. Dampaknya, ekonomi global terancam, dengan prediksi perlambatan pertumbuhan ke 3% pada 2026 menurut IMF.
Dari perspektif Indonesia, peringatan Prabowo mencerminkan kekhawatiran akan dampak perang dunia ketiga, yang bisa memicu krisis energi dan inflasi. Kementerian Luar Negeri Indonesia pada 2 Maret 2026 menyatakan keprihatinan dan imbau dialog damai, sementara BI memantau risiko terhadap rupiah dan impor minyak. Prabowo, sebagai presiden, siap fasilitasi mediasi jika dibutuhkan, seperti yang ia tawarkan sebelumnya.
Konflik ini menegaskan prediksi Prabowo bahwa masalah Iran bisa menjadi pemicu perang besar, dengan dunia kini di ambang ketidakpastian yang lebih luas.
Sumber gambar: Mahasiswa Indonesia
