Purbaya Optimis Rupiah Melemah Tak Picu Krisis: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat


Surakarta, 23 Januari 2026 - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat mendekati level Rp17.000 tidak akan memicu krisis ekonomi di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak pada 22 Januari 2026, di mana ia menekankan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap solid dan kebijakan fiskal-moneter yang sinkron dengan Bank Indonesia (BI) akan segera membalikkan tren pelemahan ini. "Enggak perlu khawatir rupiah akan memicu krisis ekonomi. Jauh dari itu, karena fundamental ekonominya masih amat baik, kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter, ekonomi akan makin cepat, investor akan masuk, rupiah menguat, pasar modal juga menguat," ujar Purbaya, menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi di atas 5%, inflasi terkendali sekitar 3%, dan defisit transaksi berjalan yang aman menjadi pondasi kuat bagi perekonomian Indonesia.
Pelemahan rupiah ini terjadi sejak akhir 2025, dengan nilai tukar sempat menyentuh Rp16.983 per dolar AS pada 20 Januari 2026, mendekati level psikologis Rp17.000, seperti dilaporkan CNBC Indonesia. Menurut Purbaya, faktor utama bukanlah isu internal seperti pergantian Deputi Gubernur BI—di mana Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menjadi kandidat—melainkan kebutuhan valuta asing (valas) yang besar dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina, PLN, dan perusahaan lain untuk pembayaran impor. "Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk, jadi itu bukan isu. Ada faktor lain seperti kebutuhan valas dari sejumlah korporasi," jelas Purbaya, mengutip data BI yang menunjukkan defisit valas sementara ini akan tertutup seiring masuknya investasi asing langsung (FDI) dan penguatan pasar modal. Gubernur BI Perry Warjiyo juga membenarkan bahwa pelemahan ini bersifat sementara, dengan proyeksi rupiah menguat kembali ke Rp15.500-16.000 per dolar AS pada akhir 2026 berkat surplus neraca perdagangan dan inflow modal.
Fundamental ekonomi Indonesia memang tetap kuat meski tekanan global seperti ancaman tarif resiprokal AS dan kerentanan rantai pasok. Data BI menunjukkan pertumbuhan GDP stabil di atas 5% pada Q4 2025, inflasi terkendali di 3%, dan defisit transaksi berjalan aman di bawah 1% dari PDB, seperti yang diungkapkan dalam Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2026. "Setelah kebutuhan valas BUMN terpenuhi, investor asing akan masuk kembali, yang diharapkan berlanjut dalam bentuk FDI," tambah Purbaya, mengacu pada tren positif pasar modal dengan IHSG yang naik 2% pada pekan tersebut. Analis dari Barclays memperkirakan bahwa rupiah bisa menyentuh Rp17.300 pada Q1 2026 jika tekanan fiskal berlanjut, tapi Purbaya optimistis bahwa sinkronisasi kebijakan dengan BI akan mencegah krisis, seperti yang dilaporkan Harian Jogja.
Di tingkat global, pelemahan mata uang emerging market seperti rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran atas kebijakan Trump, termasuk tarif hingga 20% pada impor China yang bisa memperlambat growth dunia ke 3% pada 2026 menurut IMF. Namun, untuk Indonesia, stimulus seperti belanja sosial pemerintah diharapkan menjaga konsumsi rumah tangga kuat, sehingga ekonomi tetap resilien. Purbaya menegaskan bahwa "ini bukan krisis, tapi fluktuasi sementara," dan pemerintah siap intervensi jika diperlukan untuk stabilisasi.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat rupiah, dengan target FDI US$50 miliar pada 2026 melalui reformasi investasi. Dengan fundamental kuat, Indonesia diharapkan bisa melewati turbulensi ini tanpa krisis seperti 1998.
