Purbaya Perkenalkan Trade AI dan Inovasi Digital Bea Cukai: Pemindai Kontainer Berbasis AI


Surakarta, 4 Januari 2025 - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah meresmikan serangkaian inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), termasuk pemindai kontainer X-Ray dengan fitur Radiation Portal Monitor (RPM), sistem Trade AI, dan aplikasi Self Service Report Mobile (SSR-Mobile). Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi, keamanan, dan efisiensi dalam pengawasan impor, sehingga membuat pelaku penyelundupan dan importir nakal semakin kesulitan beroperasi. "Dulu urusan Bea Cukai bikin deg-degan, sekarang justru oknum penyelundup yang ketar-ketir. Dulu pelayanan Bea Cukai dinilai lambat, sekarang malah AI-nya yang diminta jangan terlalu cepat. Kita mengenalkan layanan digital berbasis AI untuk satu tujuan, yaitu barang lebih aman, lebih cepat, lebih transparan," ujar Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta pada 12 Desember 2025.
Inovasi Trade AI menjadi pusat perhatian, sebagai sistem AI yang mampu mendeteksi anomali seperti under-invoicing (penurunan nilai barang), over-invoicing (peningkatan nilai barang), dan potensi pencucian uang berbasis perdagangan. Sistem ini menganalisis profil risiko importir, mengklasifikasikan barang, memvalidasi dokumen, dan memverifikasi asal usul produk secara otomatis. Selain itu, Trade AI dapat membandingkan harga deklarasi impor dengan harga pasar real-time, sehingga menghitung kekurangan nilai barang dengan akurat dan mencegah penggelapan pajak yang merugikan negara hingga miliaran rupiah setiap tahun. Uji coba awal di Pelabuhan Tanjung Priok telah membuktikan efektivitasnya, dengan peningkatan penerimaan negara sebesar Rp1,2 miliar dari koreksi nilai pabean pada satu kasus saja, dan proyeksi akurasi mendekati 100% pada 2026 seiring penyempurnaan algoritma dan perluasan basis data.
SSR-Mobile melengkapi ekosistem ini dengan fitur geotagging, pencatatan real-time, dan integrasi AI untuk memantau aktivitas keluar-masuk barang di kepabeanan, termasuk analisis risiko saat pembongkaran kontainer dan proses gate-in. Pemindai X-Ray berbasis AI dengan RPM dirancang untuk mendeteksi barang selundupan seperti narkoba atau senjata tanpa membuka kontainer, sehingga mempercepat proses clearance sambil meningkatkan keamanan. Pengembangan ini bagian dari transformasi National Single Window (NSW) menjadi platform AI-driven, dengan alokasi investasi Rp45 miliar untuk modernisasi pengawasan kepabeanan pada 2026. Purbaya menekankan bahwa inovasi ini lahir dari seringnya sidak dan kritik terhadap DJBC, termasuk ancaman merumahkan 16 ribu pegawai jika tidak ada perbaikan, yang memicu reformasi internal untuk efisiensi dan akurasi lebih tinggi—seperti yang ia sebut akurasi Trade AI telah tembus 90%, meski sempat tersinggung saat disamakan dengan sistem AI Kemenkes.
Latar belakang inisiatif ini adalah masalah kronis manipulasi harga impor yang merugikan negara, seperti under-invoicing yang sering dilakukan importir untuk menghindari bea masuk tinggi. Dengan Trade AI, sistem ini diharapkan menjadi "indera keenam" bagi petugas Bea Cukai, memperkuat pengawasan tanpa bergantung sepenuhnya pada sumber daya manusia. Respons dari pelaku usaha positif, karena diharapkan mempercepat proses impor yang selama ini lambat, meski ada kekhawatiran atas potensi over-regulation. Di tingkat global, inovasi serupa telah diterapkan di Singapura dan AS untuk cegah penyelundupan, dan Indonesia diharapkan bisa tingkatkan penerimaan negara hingga Rp2 triliun dari sektor ini pada 2026. Langkah Purbaya ini menjadi tonggak reformasi DJBC, setelah serangkaian sidak dan kritik atas kinerja instansi tersebut.
