Purbaya Yudhi Sadewa Akui Stres karena Rupiah Terus Melemah

5/30/20262 min baca

Purbaya Yudhi Sadewa Akui Stres karena Rupiah Terus Melemah, Tapi Tetap Optimis Fundamental Ekonomi Kuat
Purbaya Yudhi Sadewa Akui Stres karena Rupiah Terus Melemah, Tapi Tetap Optimis Fundamental Ekonomi Kuat

Surakarta, 30 Mei 2026 - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui merasa stres melihat pergerakan nilai tukar Rupiah yang terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Pernyataan ini disampaikan pada Jumat (29 Mei 2026) di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan.

Pada perdagangan Jumat tersebut, Rupiah ditutup di level Rp17.890 per Dolar AS, melemah 0,15% atau sekitar 27 poin dari hari sebelumnya. Level ini mendekati Rp18.000, yang menjadi level psikologis penting bagi pasar.

“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya.

Ketika ditanya soal kemungkinan pemerintah melakukan stress test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat tekanan kurs, Purbaya menjawab dengan santai namun jujur: “Ya, saya stress.” Namun, ia langsung menegaskan bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai simulasi risiko sejak awal, termasuk skenario harga minyak mentah mencapai US$100 per barel.

Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia

Meski Rupiah terus tertekan, Purbaya menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Beberapa indikator positif yang ia soroti:

  • Pertumbuhan ekonomi yang stabil

  • Inflasi yang terkendali

  • Pasar obligasi domestik (SBN) yang masih menarik bagi investor

  • Aliran modal asing (foreign inflow) ke pasar obligasi yang mulai kembali masuk

Bank Indonesia (BI) juga telah mengambil langkah pre-emptive dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada pertengahan Mei 2026 untuk memperkuat Rupiah dan menahan outflow modal.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Pelemahan Rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, yaitu:

  • Penguatan Dolar AS akibat sinyal hawkish The Federal Reserve

  • Ketegangan geopolitik global

  • Siklus repatriasi dividen perusahaan asing

  • Sentimen risk-off di pasar emerging markets

Purbaya menyebut pelemahan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang sebenarnya.

Langkah Pemerintah ke Depan

Pemerintah dan BI terus berkoordinasi untuk menstabilkan Rupiah. Beberapa langkah yang disiapkan antara lain:

  • Intervensi di pasar valuta asing

  • Meningkatkan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) kepada investor asing

  • Mendorong masuknya Dana Hasil Ekspor (DHE) ke sistem perbankan domestik

  • Optimalisasi cadangan devisa yang masih berada di level aman

Meski mengaku stres, Purbaya tetap menunjukkan sikap optimistis. Ia yakin Rupiah akan segera pulih seiring masuknya inflow yang lebih besar pada Juni 2026, bahkan sempat menargetkan level Rp15.000 per Dolar AS dalam beberapa kesempatan sebelumnya.

Kesimpulan

Pernyataan Purbaya mencerminkan tekanan yang dihadapi pemerintah di tengah gejolak pasar global, namun juga menunjukkan keyakinan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup tangguh untuk melewati periode ini. Bagi investor dan pelaku usaha, situasi ini menjadi pengingat penting untuk terus mewaspadai volatilitas kurs dan melakukan manajemen risiko yang baik.

Sumber gambar: ANTARA

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi