Purbaya Yudhi Sadewa Masih Optimis Ekonomi Aman Meski Rupiah Terus Melemah


Surakarta, 31 Mei 2026 - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menegaskan keyakinannya bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah tidak akan memberikan tekanan berarti terhadap kondisi fiskal dan ekonomi nasional. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran pasar setelah Rupiah sempat menyentuh level Rp17.800 per Dolar AS.
“Dari sisi anggaran, kami telah menghitung depresiasi rupiah mendekati level saat ini, jadi anggaran saya masih oke meskipun rupiah melemah ke level saat ini,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers di Jakarta pada Minggu (31 Mei 2026).
Menurut Purbaya, pemerintah telah memasukkan berbagai skenario risiko depresiasi mata uang dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, dampak pelemahan Rupiah sudah diantisipasi sejak awal, sehingga kondisi fiskal negara tetap terjaga.
Kondisi Terkini Rupiah
Pada akhir pekan lalu, Rupiah ditutup di kisaran Rp17.780 – Rp17.850 per Dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh penguatan Dolar AS secara global akibat sinyal hawkish The Federal Reserve dan faktor eksternal lainnya. Meski demikian, Purbaya menilai pelemahan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid.
Alasan Optimisme Pemerintah
Purbaya menyoroti beberapa faktor pendukung:
Pertumbuhan Ekonomi yang Relatif Tinggi Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan rata-rata negara G20. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada di kisaran 5,1% – 5,4%.
Inflasi Terkendali Inflasi Indonesia tetap berada di level rendah dan stabil, memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter.
Pasar Obligasi Domestik yang Tangguh Permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) masih kuat, dengan inflow asing yang mulai kembali masuk.
Antisipasi Risiko Global Pemerintah optimistis ketegangan geopolitik (termasuk antara Iran dan AS) akan mereda, sehingga tekanan terhadap pasar emerging markets akan berkurang.
Purbaya juga menekankan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek hingga panjang. “Secara teori, pertumbuhan ekonomi yang kuat akan mendorong penguatan mata uang suatu negara,” ujarnya.
Langkah yang Diambil Pemerintah dan BI
Untuk memperkuat Rupiah, pemerintah dan Bank Indonesia telah melakukan beberapa langkah strategis:
Kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%
Intervensi di pasar valuta asing
Mendorong repatriasi Dana Hasil Ekspor (DHE)
Penjualan SBN yang agresif kepada investor asing
Cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level yang aman untuk menjaga stabilitas.
Tantangan yang Dihadapi
Meski pemerintah optimis, pelemahan Rupiah tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang Dolar. Analis pasar menyebut bahwa jika Rupiah terus berada di atas Rp17.500 dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan biaya impor akan meningkat.
Namun, Purbaya tetap yakin bahwa dengan fundamental yang kuat dan berbagai langkah mitigasi yang telah disiapkan, Indonesia mampu melewati gejolak ini dengan baik.
Kesimpulan
Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa mencerminkan sikap pemerintah yang tenang dan percaya diri di tengah volatilitas pasar global. Meski Rupiah sedang mengalami tekanan, keyakinan terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia menjadi pondasi utama harapan pemulihan nilai tukar di masa mendatang.
Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan tetap waspada namun tidak panik, sambil terus memantau kebijakan fiskal dan moneter yang akan dikeluarkan pemerintah ke depan.
Sumber gambar: IKPI
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi