Ramalan Elon Musk: Uang Tak Berguna 10 Tahun Lagi

8/14/20262 min baca

Stacks of hundred dollar bills are shown.
Stacks of hundred dollar bills are shown.

Surakarta, 14 Agustus 2026 - Uang mungkin masih menjadi sesuatu yang paling penting dalam kehidupan manusia saat ini. Hampir semua kebutuhan, mulai dari makanan, tempat tinggal, transportasi, hingga hiburan, membutuhkan alat tukar tersebut. Namun, kondisi itu bisa berubah drastis jika teknologi berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan.

Elon Musk memprediksi uang tidak lagi terlalu berguna sekitar tahun 2036. Menurutnya, AI dan robotika akan menciptakan era kelimpahan di mana mesin mampu memproduksi barang dan jasa melebihi kapasitas konsumsi manusia.

Logika di Balik Prediksi Musk

Dalam wawancara dengan The Economist, Musk menjelaskan alasan di balik ramalannya. Manusia membutuhkan uang untuk mendapatkan barang dan jasa. Jika robot dan AI mampu memproduksi kebutuhan tersebut dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang bisa dikonsumsi manusia, maka fungsi uang sebagai alat tukar akan perlahan berkurang.

“Apa gunanya uang? Anda butuh uang untuk makanan, perumahan, transportasi, hiburan. Jika semuanya sudah begitu melimpah karena robot dan AI menyediakan lebih banyak daripada yang bisa dikonsumsi manusia, untuk apa lagi uang?” ujarnya.

Pandangan tersebut bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang bagaimana ekonomi bekerja ketika produksi tidak lagi dibatasi oleh tenaga manusia. Semakin banyak barang dan jasa tersedia, semakin kecil alasan manusia menggunakan uang sebagai alat untuk mendapatkannya. Musk bahkan memprediksi deflasi, bukan inflasi, akan menjadi tantangan utama ekonomi di masa depan karena output barang dan jasa tumbuh lebih cepat daripada pasokan uang.

Universal High Income dan Transisi yang “Bergelombang”

Musk menyebut konsep universal high income (pendapatan tinggi universal) sebagai solusi sementara. Ia membedakannya dari universal basic income yang hanya mencukupi kebutuhan dasar. Dalam skenario kelimpahan, pemerintah bisa langsung memberikan cek kepada warga sebagai cara mendistribusikan hasil produksi mesin.

Meski demikian, ia mengakui bahwa transisi menuju era tersebut akan “bergombang” (bumpy) dan penuh tantangan sosial serta politik.

Catatan dari Prediksi Sebelumnya

Musk memang bukan orang sembarangan dalam membicarakan masa depan teknologi. Kekayaannya yang mencapai ratusan miliar dolar sebagian besar berasal dari kepemilikan saham Tesla dan SpaceX, dua perusahaan yang berada di garis depan inovasi AI, robotika, dan transportasi.

Namun, prediksinya selalu dilengkapi catatan sejarah. Ia pernah memperkirakan teknologi Full Self-Driving Tesla selesai pada 2018 dan satu juta taksi otonom beroperasi pada 2020, tetapi keduanya belum terwujud sesuai target. Target manusia menuju Mars juga mengalami perubahan berulang kali. Setelah sebelumnya menyebut 2024–2026, misi tersebut kini diperkirakan baru dapat dilakukan paling cepat pada 2028–2030.

Implikasi Lebih Luas

Terlepas dari akurat atau tidaknya ramalan tersebut, gagasan Musk menunjukkan satu hal penting. Jika AI dan robot benar-benar mampu menciptakan kelimpahan, bukan hanya pekerjaan yang berubah, tetapi cara manusia memandang uang, kerja, dan nilai ekonomi.

Di satu sisi, visi ini menawarkan optimisme tentang masa depan tanpa kelangkaan. Di sisi lain, pertanyaan besar tetap terbuka: siapa yang akan memiliki robot-robot tersebut, bagaimana distribusi kekayaan diatur, dan apakah kelimpahan benar-benar akan dinikmati secara merata?

Bagi pelaku bisnis dan pembuat kebijakan, prediksi Musk menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak hanya mengubah cara produksi, tetapi berpotensi mengubah fondasi ekonomi yang selama ini kita kenal.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi