SBY Menyampaikan Indonesia Pernah Alami Krisis BBM, Jadi Jangan Panik

3/27/20262 min baca

SBY Menyampaikan Indonesia Pernah Alami Krisis BBM, Jadi Jangan Panik
SBY Menyampaikan Indonesia Pernah Alami Krisis BBM, Jadi Jangan Panik

Surakarta, 27 Maret 2026 – Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak panik menghadapi kelangkaan dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat lonjakan harga minyak dunia. Menurut SBY, Indonesia pernah mengalami situasi serupa pada masa kepemimpinannya, dan negara berhasil melewatinya dengan kombinasi kebijakan yang tepat.

Dalam unggahan di akun X-nya pada Rabu (25 Maret 2026), SBY mengenang pengalaman tahun 2005–2008 ketika harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Saat itu, pemerintahnya terpaksa menambah subsidi BBM secara signifikan sekaligus menaikkan harga BBM bersubsidi, disertai kampanye penghematan energi secara besar-besaran. “Fiskal dan defisit APBN melebar, inflasi atau stabilitas harga terguncang dan dampak terhadap kaum tak mampu sangat terasa. Meskipun pahit dan tidak mudah, kita pilih kombinasi kebijakan yaitu penambahan subsidi dan penaikan harga BBM. Pemerintah juga melakukan kampanye penghematan energi besar-besaran,” tulis SBY.

Pengalaman tersebut, menurut SBY, membuktikan bahwa Indonesia memiliki ketahanan untuk menghadapi gejolak harga energi global. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang bijak, komunikasi yang baik dengan masyarakat, serta langkah penghematan energi untuk meredam dampak negatif terhadap ekonomi dan daya beli rakyat kecil.

Lonjakan harga minyak saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Harga minyak mentah Brent kembali naik ke level US$107 per barel pada perdagangan Jumat (27 Maret 2026), seperti dilaporkan Trading Economics. Kenaikan ini dipicu oleh pupusnya harapan meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah pasca-konflik Iran-AS-Israel, serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur pengiriman 20% minyak dunia.

Di Indonesia, kenaikan harga minyak global berpotensi menekan subsidi BBM dan meningkatkan inflasi. Namun, SBY meyakini pemerintah saat ini di bawah Presiden Prabowo Subianto memiliki pengalaman dan instrumen yang cukup untuk mengelola situasi ini, termasuk diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan devisa.

Pernyataan SBY ini mendapat perhatian luas karena ia pernah memimpin Indonesia melalui dua kali kenaikan harga BBM bersubsidi yang cukup kontroversial pada 2005 dan 2008. Meski menuai protes saat itu, kebijakan tersebut diakui banyak ekonom sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan fiskal negara.

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang memantau perkembangan harga minyak dunia dengan cermat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terus berkoordinasi untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga BBM domestik.

Dengan pengalaman masa lalu yang disampaikan SBY, masyarakat diharapkan tetap tenang dan mendukung kebijakan pemerintah dalam menghadapi gejolak energi global.

Sumber gambar: Reuters