SBY Yakin Khamenei dan Trump Tak Akan Gegabah Perang: "Risiko Terlalu Tinggi"


Surakarta, 28 Februari 2026 - Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pandangannya yang tenang di tengah memanasnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS), menyatakan keyakinannya bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden AS Donald Trump tidak akan gegabah memulai perang. Pernyataan ini disampaikan SBY melalui unggahan di akun X-nya pada 27 Februari 2026, di mana ia menekankan pentingnya pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan militer. "Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah," tulis SBY, yang dikenal sebagai negosiator ulung selama masa jabatannya (2004-2014). Sebagai mantan prajurit dan pemimpin yang pernah menangani konflik di Aceh dan Timor Leste, SBY menilai bahwa proses kompromi seperti ini memang melelahkan karena harus mempertemukan kepentingan kedua belah pihak yang saling bertabrakan.
SBY juga memberikan catatan penting bagi kedua pemimpin, mulai dari mempertimbangkan opsi perang sebagai jalan terakhir, melakukan kalkulasi rasional untuk memenangkan konflik, hingga memahami suksesi perang yang sebenarnya berada di tangan prajurit dan pemimpin negara. "Perang bukan hanya soal menang atau kalah, tapi harga manusiawi dan ekonomi yang harus dibayar," tambahnya, menyoroti bahwa keputusan gegabah bisa memicu krisis regional yang lebih luas. Pandangan SBY ini sejalan dengan analisis dari para pakar internasional, seperti yang dikutip dari Al Jazeera pada 28 Februari 2026, di mana ketegangan ini berpotensi melibatkan sekutu seperti Rusia dan China di pihak Iran, serta Israel dan negara Teluk di pihak AS, menciptakan konflik multi-front yang mahal.
Latar belakang konflik ini semakin memanas setelah serangan Israel ke ibu kota Iran, Tehran, pada 27 Februari 2026, yang diduga sebagai respons terhadap program nuklir Iran. Serangan ini menyebabkan kerusakan signifikan di fasilitas militer, dengan korban jiwa mencapai puluhan orang, seperti dilaporkan Reuters pada hari yang sama. Negosiasi yang seharusnya berlangsung hingga pekan depan justru terancam gagal, setelah Iran menolak tuntutan AS untuk pembongkaran lengkap program nuklirnya. Khamenei, dalam pidato 1 Februari 2026, memperingatkan bahwa serangan AS akan memicu perang regional, sementara Trump memberikan ultimatum 10-15 hari untuk kesepakatan atau konsekuensi berat, menurut The Guardian pada 20 Februari 2026. Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Laut Arab semakin memperburuk situasi, dengan Iran merespons melalui latihan militer besar-besaran di Teluk Persia.
Dari perspektif Indonesia, SBY sebagai tokoh senior yang pernah menangani isu internasional seperti konflik Palestina, memberikan suara moderat yang diharapkan bisa mendorong diplomasi. Kementerian Luar Negeri Indonesia pada 28 Februari 2026 menyatakan keprihatinan atas eskalasi ini, karena bisa mempengaruhi harga minyak global dan stabilitas Timur Tengah, dengan potensi kenaikan inflasi domestik jika konflik meledak. Meski demikian, harapan diplomasi masih ada, dengan mediasi dari Qatar dan Oman yang sedang berlangsung untuk mencegah perang terbuka.
Konflik ini menegaskan bahwa ketegangan AS-Iran tetap menjadi ancaman stabilitas global, dengan kedua pihak menunjukkan kesiapan militer yang tinggi.
