Sebelum Jadi Triliuner Dunia, Elon Musk Ternyata Pernah Jadi Korban Perundungan


Surakarta, 28 September 2026 - Elon Musk lahir di Pretoria, Afrika Selatan, pada 28 Juni 1971. Di balik citranya saat ini sebagai salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh di dunia, masa kecilnya justru diwarnai perundungan serius, ketegangan keluarga, dan lingkungan yang penuh tantangan di era apartheid.
Perundungan di Sekolah
Salah satu peristiwa yang kerap dikenang terjadi saat Musk masih bersekolah. Di tengah kuatnya politik apartheid, ia sempat menegur siswa yang melontarkan ucapan rasis. Tindakan itu justru membuatnya menjadi sasaran intimidasi. Menurut berbagai biografi, termasuk yang ditulis Ashlee Vance dan Walter Isaacson, Musk mengalami penganiayaan fisik yang cukup berat di Bryanston High School. Ia sempat digiring, ditendang di kepala, dan dilempar dari tangga beton hingga harus dirawat di rumah sakit selama sekitar dua minggu. Adiknya, Kimbal Musk, yang saat itu berada di dekatnya, menjadi saksi kejadian tersebut.
Peristiwa itu meninggalkan bekas mendalam. Musk kemudian pindah ke Pretoria Boys High School untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya. Pengalaman perundungan ini sering dikaitkan dengan ketahanannya menghadapi tekanan di kemudian hari.
Ketegangan Keluarga
Masalah tidak hanya datang dari lingkungan sekolah. Orang tua Musk, Maye dan Errol Musk, bercerai saat ia berusia sekitar delapan atau sembilan tahun. Setelah perceraian, Elon dan Kimbal memilih tinggal bersama ayah mereka. Keputusan itu belakangan diakui Musk sebagai pilihan yang kurang tepat. Hubungan dengan ayahnya dikenal penuh ketegangan. Dalam berbagai wawancara dan biografi, Musk menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang sulit dan kurang empati, sementara Maye Musk dalam memoarnya juga menyinggung sisi gelap pernikahan mereka.
Meski demikian, dari lingkungan keluarga yang tidak stabil itu, Musk justru menemukan minat besar pada teknologi dan sains sejak usia dini.
Minat Teknologi Sejak Kecil
Saat berusia 12 tahun, Musk berhasil menciptakan game komputer sederhana bernama Blastar. Ia menjual game tersebut kepada sebuah majalah komputer seharga sekitar US$500. Uang hasil penjualan itu menjadi salah satu pengalaman bisnis pertamanya. Ketertarikan pada pemrograman dan teknologi terus berkembang hingga ia memutuskan meninggalkan Afrika Selatan menuju Kanada, lalu Amerika Serikat, demi mengejar pendidikan dan peluang di industri teknologi.
Awal Membangun Kekayaan: Zip2 dan PayPal
Memasuki dunia bisnis, Musk bersama saudaranya Kimbal dan Greg Kouri mendirikan Zip2 pada pertengahan 1990-an. Perusahaan ini menyediakan direktori bisnis online lengkap dengan peta dan panduan arah—salah satu layanan awal yang membantu media dan bisnis hadir di internet. Pada 1999, Zip2 diakuisisi Compaq dengan nilai sekitar US$307–341 juta. Dari transaksi tersebut, Musk memperoleh sekitar US$22 juta.
Dengan modal itu, ia mendirikan X.com yang kemudian bergabung dengan Confinity dan berkembang menjadi PayPal. Meskipun sempat kehilangan posisi kepemimpinan di perusahaan tersebut, ketika eBay mengakuisisi PayPal pada 2002 senilai US$1,5 miliar, Musk memperoleh sekitar US$165–180 juta. Dana tersebut menjadi modal awal bagi langkah-langkah berikutnya yang jauh lebih ambisius.
Membangun Tesla, SpaceX, dan Melampaui Batas
Setelah PayPal, Musk mengarahkan fokusnya ke dua perusahaan yang kelak mengubah industri: Tesla di bidang kendaraan listrik dan SpaceX di industri antariksa. Perjalanan keduanya penuh risiko, termasuk krisis keuangan yang nyaris membuat kedua perusahaan gulung tikar pada akhir 2000-an. Namun, ketekunan dan visi jangka panjang membuat keduanya bertahan dan tumbuh menjadi raksasa teknologi.
Dalam narasi terkini, usai IPO SpaceX pada bulan Juni lalu, kekayaan Musk disebut pernah mencapai sekitar US$1,1 triliun atau setara Rp19.700 triliun. Pencapaian itu menjadikannya manusia paling kaya di muka bumi sekaligus sosok pertama yang menyandang status triliuner.
Pelajaran dari Masa Lalu
Perjalanan Elon Musk menunjukkan bahwa masa kecil yang penuh luka tidak selalu menentukan batas pencapaian seseorang. Perundungan, ketegangan keluarga, dan berbagai kegagalan di awal karier justru menjadi bagian dari proses pembentukan ketahanan mental. Yang membedakan adalah kemampuannya mengubah rasa sakit menjadi motivasi, serta terus menempatkan “chip” di atas meja untuk bertaruh pada ide-ide besar berikutnya.
Dari korban perundungan di Afrika Selatan hingga menjadi triliuner dunia, kisah Musk menjadi pengingat bahwa latar belakang sulit bukanlah penghalang mutlak. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang memilih untuk merespons dan terus bergerak maju.
Elon Musk lahir di Pretoria pada 1971 dan mengalami perundungan berat serta ketegangan keluarga di masa kecil. Minatnya pada teknologi terlihat sejak usia 12 tahun lewat game Blastar. Ia membangun kekayaan awal lewat Zip2 dan PayPal, lalu mendirikan Tesla dan SpaceX. Usai IPO SpaceX, kekayaannya disebut mencapai sekitar US$1,1 triliun, menjadikannya triliuner pertama di dunia.
Image Source: Wikimedia Commons
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi