Serangan Iran ke Beit Shemesh Israel Tewaskan 9 Orang: Eskalasi Pasca-Kematian Khamenei

3/2/20262 min baca

Serangan Misil Balistik Iran ke Beit Shemesh Israel Tewaskan 9 Orang: Eskalasi Pasca-Kematian Khamenei, IDF Gagal Antisipasi
Serangan Misil Balistik Iran ke Beit Shemesh Israel Tewaskan 9 Orang: Eskalasi Pasca-Kematian Khamenei, IDF Gagal Antisipasi

Surakarta, 2 Februari 2026 - Serangan misil balistik Iran ke pusat kota Beit Shemesh, Israel, pada 1 Maret 2026, telah menewaskan setidaknya 9 orang dan melukai puluhan lainnya, menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam konflik yang semakin eskalasi antara kedua negara. Serangan ini terjadi hanya sehari setelah konfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan AS-Israel ke Tehran, yang memicu balasan langsung dari Iran. Menurut laporan BBC News pada 1 Maret 2026, misil Iran menghantam kawasan residensial di Beit Shemesh, sekitar 18 mil barat Jerusalem, menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dan shelter umum. Israel Defense Forces (IDF) mengakui kegagalan dalam mengantisipasi serangan ini, dengan sistem pertahanan seperti Iron Dome yang tidak sepenuhnya efektif terhadap misil balistik canggih Iran, seperti yang dilaporkan The Times of Israel. Puluhan ambulans dan tim medis dikerahkan ke lokasi, di mana warga setempat menggambarkan adegan chaos dengan asap tebal dan jeritan korban, menurut saksi mata yang dikutip Al Jazeera.

Eskalasi konflik ini berawal dari serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang menargetkan kompleks kepemimpinan di Tehran dan menewaskan Khamenei beserta puluhan pejabat senior. Media negara Iran IRNA mengonfirmasi kematian Khamenei pada hari yang sama, menyebutnya sebagai "martyrdom" dan bersumpah balas dendam. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangkaian misil balistik ke Israel, dengan Beit Shemesh menjadi salah satu target utama. Menurut CNN, serangan ini bagian dari gelombang kedua setelah konfirmasi kematian Khamenei, dengan korban di Israel mencapai 12 orang secara keseluruhan sejak konflik dimulai. IDF melaporkan bahwa misil Iran berhasil menembus pertahanan udara, menyebabkan kerusakan parah di kawasan perumahan, dengan setidaknya 18 orang luka-luka dan beberapa masih hilang di bawah reruntuhan.

Presiden Masoud Pezeshkian, yang kini memimpin pemerintahan sementara Iran, menyatakan bahwa pembunuhan Khamenei adalah "declaration of open war" dan bersumpah akan "blood and revenge," seperti yang dilaporkan CBS News. Iran telah mengumumkan periode berkabung 40 hari, sementara ribuan warga berkumpul di Mashhad untuk pemakaman Khamenei. Di sisi AS, Trump menyatakan bahwa operasi ini "successful" dan membunuh puluhan pemimpin Iran dalam hitungan detik, dengan bantuan intelijen CIA, menurut The New York Times. Netanyahu dari Israel menyatakan bahwa serangan akan "increase even more" dalam hari-hari mendatang, seperti yang dikutip Middle East Eye.

Dampak konflik ini luas, dengan pemadaman penerbangan mencapai 19.000 di Timur Tengah, dan harga minyak naik karena kekhawatiran pasokan. Di Indonesia, Kemlu menyatakan keprihatinan dan imbau WNI evakuasi dari wilayah konflik. Konflik ini menegaskan ketegangan AS-Iran yang bisa memicu perang regional lebih luas.

Sumber gambar: Reuters