Strategi Bisnis Prabowo: Berburu Aset yang Kolaps


Surakarta, 11 Oktober 2026 - Prabowo Subianto tidak memulai bisnis sejak usia muda. Setelah pensiun dari militer pada 1998, ia justru mulai serius membangun usaha ketika memasuki usia 50-an. Langkah awalnya bersentuhan dengan bisnis keluarga di Yordania. Setelah kembali ke Indonesia, Prabowo membangun jaringan usaha di bawah naungan Nusantara Group yang bergerak di berbagai sektor.
Mengambil Alih Aset Bermasalah
Salah satu langkah besar yang paling sering disebut adalah pengambilan alih PT Kiani Kertas di Berau, Kalimantan Timur. Perusahaan pulp dan kertas tersebut sebelumnya dimiliki pengusaha Bob Hasan. Setelah krisis ekonomi 1998, aset itu mengalami kredit macet dan masuk penanganan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) serta Bank Mandiri.
Pada awal 2000-an, entitas yang terkait Prabowo mengakuisisi perusahaan tersebut dengan nilai sekitar Rp1,8 triliun. Nama perusahaan kemudian diubah menjadi PT Kertas Nusantara. Proses akuisisi ini sempat difasilitasi Jusuf Kalla yang saat itu menjabat Wakil Presiden. Menurut sejumlah laporan, Prabowo memilih membeli aset tersebut agar tidak jatuh ke tangan investor asing.
Pabrik di Mangkajang, Berau, memiliki kapasitas produksi pulp yang besar dan dilengkapi lahan hutan tanaman industri yang luas. Meskipun kemudian menghadapi tantangan operasional, langkah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam portofolio bisnis Prabowo.
Diversifikasi ke Berbagai Sektor
Bisnis kertas bukan satu-satunya sektor yang digarap. Portofolio Nusantara Group kemudian melebar ke perkebunan kelapa sawit (antara lain melalui PT Tidar Kerinci Agung), kehutanan, pertambangan, perikanan (PT Jaladri Nusantara), energi, hingga jasa keamanan. Diversifikasi ini menjadi strategi penting. Ketika satu sektor menghadapi tekanan, sumber pendapatan lain dapat menjadi penopang sekaligus membuka peluang baru.
Pendekatan Prabowo sering digambarkan sebagai kemampuan melihat peluang dari perusahaan besar yang kolaps pasca-krisis 1998. Aset bermasalah yang sebelumnya dimiliki konglomerat lama bisa menjadi peluang bagi investor yang memiliki modal, jaringan, dan kemampuan mengelola ulang bisnis tersebut.
Kolaborasi dan Jaringan
Prabowo tidak membangun semuanya sendirian. Ia menggandeng keluarga dan sejumlah rekan dalam mengelola bisnis. Pada fase awal Kertas Nusantara, misalnya, Luhut Binsar Pandjaitan pernah tercatat sebagai Komisaris Utama. Kolaborasi semacam ini menjadi bagian dari cara mengelola aset yang kompleks dan padat modal.
Pada laporan harta kekayaan (LHKPN) sekitar 2023–2024, kekayaan Prabowo tercatat di kisaran Rp2 triliun. Angka tersebut mencerminkan akumulasi dari berbagai aset yang dikelola selama dua dekade lebih.
Pelajaran dari Perjalanan Bisnis
Dari kisah tersebut, terdapat beberapa pelajaran bisnis yang bisa dipetik. Pertama, usia bukan penghalang untuk memulai. Prabowo baru serius berbisnis setelah pensiun militer. Kedua, momentum sangat menentukan. Krisis 1998 menciptakan banyak aset bermasalah yang kemudian bisa diambil alih dengan harga tertentu. Ketiga, diversifikasi mengurangi risiko. Keempat, kolaborasi dan jaringan mempermudah pengelolaan aset besar.
Strategi “berburu aset yang kolaps” memang berisiko tinggi. Tidak semua akuisisi berjalan mulus, dan beberapa perusahaan kemudian menghadapi tantangan operasional. Namun, pendekatan ini menunjukkan cara berpikir yang berbeda: melihat peluang di tengah kesulitan, bukan hanya menunggu bisnis baru yang sudah stabil.
Pada akhirnya, perjalanan bisnis Prabowo Subianto memperlihatkan kombinasi antara membaca momentum pasca-krisis, keberanian mengambil aset strategis yang bermasalah, diversifikasi sektor, dan membangun tim. Faktor-faktor itulah yang membuat portofolionya berkembang ke berbagai bidang, dari kertas hingga sumber daya alam.
Prabowo mulai serius berbisnis setelah pensiun militer di usia 50-an. Langkah besarnya mengambil alih PT Kiani Kertas (kemudian Kertas Nusantara) senilai sekitar Rp1,8 triliun pasca-krisis 1998. Portofolio lalu melebar ke perkebunan, tambang, perikanan, dan energi di bawah Nusantara Group. Strateginya: beli aset kolaps, diversifikasi, dan kolaborasi. Kekayaan tercatat sekitar Rp2 triliun.
Media Sosial
Temukan Kami
#KenalLebihDekat
© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

Anggota Asosiasi