Teknologi Vaksin Stabil Suhu & Pengiriman Drone Siap Jadi Solusi di Tengah Wabah Hantavirus

5/8/20262 min baca

Teknologi Vaksin Stabil Suhu & Pengiriman Drone dari Universitas Bath Siap Jadi Solusi di Tengah Wabah Hantavirus
Teknologi Vaksin Stabil Suhu & Pengiriman Drone dari Universitas Bath Siap Jadi Solusi di Tengah Wabah Hantavirus

Surakarta, 8 Mei 2026 - Profesor Kimia Asel Sartbaeva dari University of Bath bersama timnya tengah mengembangkan terobosan teknologi vaksin yang memungkinkan pengiriman menggunakan drone ke daerah terpencil, termasuk kapal-kapal di laut lepas. Teknologi ini muncul tepat saat dunia dihebohkan oleh wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik.

Profesor Sartbaeva, yang telah meneliti teknologi ini selama lebih dari 15 tahun, mengembangkan metode bernama ensilication (atau insilication). Metode ini melapisi protein vaksin dengan lapisan tipis material anorganik (silika) sehingga vaksin menjadi sangat stabil terhadap perubahan suhu. Vaksin tidak lagi memerlukan rantai dingin (cold chain) ketat seperti penyimpanan suhu beku, sehingga dapat diangkut dengan drone bahkan ke lokasi sulit dijangkau.

“Kami telah menambahkan stabilisasi termal di atasnya untuk membuat vaksin tersebut tahan terhadap perubahan suhu sehingga kami dapat melakukan, misalnya, pengiriman menggunakan drone,” ujar Profesor Sartbaeva seperti dilansir BBC pada 8 Mei 2026.

Teknologi ini dikembangkan melalui spin-out perusahaan EnsiliTech yang didirikan Sartbaeva. Ensilication telah terbukti menjaga struktur dan fungsi vaksin bahkan setelah disimpan pada suhu ruang selama bertahun-tahun atau dipanaskan hingga 100°C. Timnya saat ini sedang mengembangkan vaksin hantavirus yang stabil secara termal, termasuk yang berbasis mRNA, dengan dukungan dana pemerintah Inggris.

Konteks Wabah MV Hondius

Kapal pesiar ekspedisi MV Hondius (berbendera Belanda) berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada awal April 2026 menuju Antartika dan pulau-pulau terpencil di Atlantik Selatan. Hingga 8 Mei 2026, tercatat 3 orang meninggal dunia dan total sekitar 8 kasus (beberapa dikonfirmasi) hantavirus, khususnya strain Andes yang jarang dan berpotensi menular antar-manusia. Kapal kini berlabuh di lepas pantai Cape Verde, dengan penumpang dan awak yang diisolasi. Beberapa pasien telah dievakuasi ke rumah sakit di Afrika Selatan, Belanda, Jerman, dan Swiss.

Hantavirus biasanya ditularkan melalui kotoran, urine, atau air liur tikus, memiliki tingkat kematian hingga 38% pada kasus paru-paru, dan belum memiliki vaksin atau pengobatan antiviral khusus yang disetujui. Wabah ini memicu kekhawatiran global karena jarang terjadi di lingkungan kapal pesiar dan WHO sedang memantau kemungkinan penularan antar-manusia.

Potensi Dampak Teknologi Sartbaeva

Teknologi ensilication + pengiriman drone ini diharapkan dapat menjadi solusi cepat di situasi darurat seperti wabah di kapal, daerah terpencil, zona konflik, atau negara berkembang yang kesulitan menjaga cold chain. Drone dapat mengantar vaksin secara cepat tanpa bergantung pada infrastruktur darat atau kapal yang lambat.

Profesor Sartbaeva menekankan bahwa penelitiannya sudah dimulai jauh sebelum wabah MV Hondius, namun kejadian ini semakin memperkuat urgensi pengembangan. Timnya optimistis teknologi ini bisa “pandemic-proof” berbagai vaksin di masa depan.

Para ahli kesehatan menyambut positif inisiatif ini. Jika berhasil dikomersialkan, teknologi ini berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun dengan meningkatkan akses vaksin di wilayah sulit dijangkau.

Sumber gambar: NewsBytes

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi