The Fed dan BI Kompak Tahan Suku Bunga: Fokus Stabilitas di Tengah Konflik Timur Tengah


Surakarta, 20 Maret 2026 – Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat secara resmi mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% pada rapat FOMC terbaru, sesuai prediksi pasar yang sudah kuat sejak awal tahun. Keputusan ini diumumkan pada 18 Maret 2026 dan menjadi sinyal bahwa The Fed masih memprioritaskan pengendalian inflasi di tengah berbagai risiko global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, volatilitas harga energi, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan era Trump 2.0.
Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pasca-keputusan menegaskan bahwa “inflasi masih di atas target 2% dan pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda perlambatan, sehingga kami akan tetap berhati-hati”. Dot plot terbaru memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026 (kemungkinan di paruh kedua tahun), lebih konservatif dibandingkan proyeksi pasar yang sempat mengharapkan dua kali potong. Powell juga menyinggung bahwa risiko inflasi kembali naik akibat lonjakan harga komoditas energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik Iran-AS-Israel.
Tak jauh berbeda, Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% pada rapat Dewan Gubernur 17–18 Maret 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat tertekan mendekati Rp17.000 per dolar AS akibat capital outflow dan ketidakpastian global. “Kami tetap fokus pada stabilitas harga dan nilai tukar, sambil mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan,” ujar Perry.
Kompaknya sikap The Fed dan BI ini dinilai positif oleh pasar. Indeks saham IHSG menguat 1,2% dan rupiah menguat tipis ke Rp16.850 per dolar AS pasca-pengumuman. Analis dari Mandiri Sekuritas menyebut bahwa sinkronisasi kebijakan moneter ini membantu meredam volatilitas, terutama di tengah lonjakan harga minyak Brent yang sempat menyentuh US$110 per barel akibat ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Di sisi lain, beberapa ekonom seperti Faisal Rachman dari LPEM UI memperingatkan bahwa penahanan suku bunga terlalu lama bisa menekan pertumbuhan kredit dan konsumsi domestik. Namun, secara keseluruhan, keputusan ini dianggap tepat untuk menjaga stabilitas di tengah gejolak geopolitik yang belum mereda.
Kedua bank sentral tampaknya sepakat: stabilitas lebih diutamakan daripada pemangkasan agresif di tengah risiko inflasi dan ketidakpastian global.
