Tidur di Makam Keramat, Pendiri Bentoel Dapat Mimpi yang Mengubah Nasib Bisnisnya

11/6/20262 min baca

Tidur di Makam Keramat, Pendiri Bentoel Dapat Mimpi yang Mengubah Nasib Bisnisnya
Tidur di Makam Keramat, Pendiri Bentoel Dapat Mimpi yang Mengubah Nasib Bisnisnya

Surakarta, 6 November 2026 - Ong Hok Liong lahir di desa Karang Pacar, Bojonegoro, Jawa Timur, pada 12 Agustus 1893. Ia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara pasangan pedagang tembakau. Sejak muda, Ong akrab dengan dunia tembakau. Pada usia belasan tahun, ia merantau ke Malang dan menetap di kawasan Pecinan Kecil. Bersama rekannya Tjoa Sioe Bian, Ong mulai merintis usaha rokok lintingan rumahan sekitar tahun 1930.

Awalnya, perusahaan itu bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong, kemudian berubah menjadi Hien An Kongsie. Produk yang diluncurkan antara lain rokok tjap Burung, tjap Klabang, Turki, dan Djeroek Manis. Namun, penjualan tidak pernah benar-benar menonjol. Usaha tetap berjalan, tetapi belum mampu menembus pasar secara luas.

Titik balik datang pada 1954. Ong Hok Liong yang dikenal rajin berziarah ke Gunung Kawi, Malang, datang ke makam keramat Mbah Djugo (juga disebut Eyang Jugo atau Eyang Djugo) dan Iman Soedjono. Saat berada di kawasan makam, ia tertidur dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah bangun, Ong menanyakan arti mimpi itu kepada juru kunci makam. Ia mendapat saran agar mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya agar usahanya lebih lancar.

Sepulang ke Malang, Ong mengikuti petunjuk tersebut. Nama perusahaan diubah menjadi Bentoel—sebutan lokal masyarakat Malang untuk ubi talas. Nama resmi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel pun diperkenalkan. Perubahan nama itu menjadi titik balik. Penjualan mulai meningkat tajam. Sebelum tahun 1960, Bentoel sudah mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan dan tumbuh menjadi salah satu produsen rokok pribumi terbesar di Indonesia. Sejarawan George Quinn mencatat bahwa saat Ong meninggal pada 1967, ia sudah menjadi multi-jutawan dan Bentoel merupakan produsen rokok pribumi terbesar kedua di tanah air.

Setelah kematian Ong, bisnis dilanjutkan oleh keluarga, termasuk putranya Budhiwijaya Kusumanegara. Namun, sejak 1980-an perusahaan mulai menghadapi tekanan keuangan berat. Bentoel kesulitan melunasi pinjaman sekitar US$170 juta kepada BRI dan Bank Bumi Daya, sementara utang kepada kreditor asing membengkak hingga US$350 juta. Akhirnya, keluarga Ong melepas mayoritas saham. Saham tersebut sempat dikuasai Rajawali Group milik Peter Sondakh.

Pada 1997, aset perusahaan dialihkan ke PT Bentoel Prima. Tahun 2000, nama perusahaan menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Pada Juni 2009, British American Tobacco (BAT) mengakuisisi 85 persen saham Bentoel senilai US$494 juta, lalu meningkatkan kepemilikannya. Kini, BAT menguasai sekitar 92,48 persen saham Bentoel, sementara sisanya dimiliki publik.

Kisah Ong Hok Liong menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan rokok kecil di Malang mampu tumbuh menjadi raksasa industri kretek nasional. Baik karena keyakinan spiritual, keberanian mengubah identitas merek, maupun kemampuan membaca peluang pasar, perjalanan Bentoel tetap menjadi salah satu contoh menarik dalam sejarah bisnis Indonesia. Dari pabrik rumahan hingga menjadi bagian dari perusahaan tembakau global, jejak pendirinya tetap dikenang, termasuk lewat kisah mimpi di makam keramat Gunung Kawi.

Image Source: Inilah

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi