Tokoh-Tokoh Dunia Wanti-wanti Krisis Ekonomi Global Akibat Utang dan Kebijakan Fed yang Picu Inflasi
Surakarta, 4 Januari 2026 - Utang nasional Amerika Serikat (AS) yang kini menembus US$38 triliun telah menjadi bom waktu bagi ekonomi global, dengan para tokoh terkemuka seperti ekonom Peter Schiff dan investor legendaris Michael Burry memprediksi krisis ekonomi terparah dalam sejarah yang bisa segera meledak. Prediksi ini semakin menguat sejak awal 2025, di mana ketidakpastian pasar semakin sulit diprediksi akibat kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang diam-diam kembali ke praktik monetisasi utang melalui pembelian obligasi pemerintah AS senilai US$40 miliar setiap bulan. Kebijakan ini, yang dianggap sebagai pemicu inflasi baru, diproyeksikan bisa mengakhiri era dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia, karena inflasi yang terus menghantui ekonomi terbesar dunia tersebut. Para ahli memperingatkan bahwa jika bubble ini pecah, dampaknya akan menyapu ekonomi dunia, mirip dengan krisis subprime mortgage 2008 yang pernah diprediksi akurat oleh Burry.
Peter Schiff, ekonom dan investor emas terkenal, menjadi salah satu suara paling vokal dalam memprediksi collapse ekonomi AS. Dalam postingannya di X pada akhir November 2025, Schiff menyatakan bahwa "era dominasi dolar AS akan segera berakhir" karena utang federal yang membengkak dan defisit anggaran kronis, dengan emas yang akan menggantikan dolar sebagai aset cadangan utama bank sentral global. Ia memperingatkan bahwa The Fed sedang memicu inflasi melalui monetisasi utang, di mana pembelian obligasi pemerintah secara masif akan melemahkan dolar dan memicu "historic economic collapse" yang lebih parah dari Depresi Besar 1930-an. Schiff, yang akurat memprediksi krisis 2008, menekankan bahwa defisit AS yang mencapai US$1,74 triliun pada fiskal 2025 dan utang nasional yang ballooning ke US$37 triliun akan memaksa AS memilih inflasi sebagai jalan keluar, yang akhirnya menghancurkan nilai dolar. Dalam wawancara dengan Kitco News pada Desember 2025, Schiff menambahkan bahwa silver juga akan surge sebagai aset safe haven, dan investor harus bersiap untuk volatilitas ekstrem di 2026 karena clash antara kebijakan Fed dan agenda anti-inflasi Trump.
Michael Burry, investor "The Big Short" yang terkenal memprediksi krisis subprime 2008, juga menyuarakan kekhawatiran serupa meski dengan fokus pada gelembung AI yang ia anggap akan meledak dan memicu crash pasar. Dalam posting Substack-nya pada Desember 2025, Burry memperingatkan bahwa overvaluation di sektor AI, seperti saham Nvidia, mirip dengan bubble dot-com 2000, dan bisa menyebabkan "the real crash" pada 2026 jika suku bunga naik. Burry, yang sempat bearish pada NVDA, PDD, JD, BIDU, dan TCOM pada Q1 2025, menekankan bahwa ketergantungan pada kebijakan Fed yang longgar akan memperburuk situasi utang AS, di mana monetisasi utang bisa memicu hiperinflasi dan pengangguran massal. Ia juga menyoroti bahwa dominasi dolar rentan karena negara seperti China dan India meningkatkan cadangan emas, sinyal akhir hegemoni greenback. Burry, dalam wawancara dengan Michael Lewis pada Desember 2025, menyatakan bahwa "a few bad years ahead" karena bubble AI dan utang, mendorong investor untuk hedged dengan aset real seperti emas.
Selain Schiff dan Burry, tokoh lain seperti Nouriel Roubini—yang memprediksi krisis 2008—juga memperingatkan tentang "mother of all debt crises" akibat utang AS yang tak terkendali, dengan risiko default pada 2026 jika defisit tidak ditekan. Jim Rickards, penulis "Currency Wars", menambahkan bahwa akhir dolar sebagai reserve currency akan dipicu oleh BRICS yang semakin kuat dengan mata uang alternatif, mempercepat krisis global. Di Indonesia, dampak potensial ini menjadi perhatian, karena ketergantungan pada dolar untuk impor dan utang luar negeri bisa memicu inflasi dan pelemahan rupiah jika krisis terjadi. Dengan emas mencapai rekor US$4.383 per ons pada Desember 2025, prediksi ini semakin kredibel, mendorong investor untuk diversifikasi ke aset tangible. Meski demikian, sebagian ekonom seperti Paul Krugman berargumen bahwa utang AS masih manageable karena status reserve currency, tapi Schiff menolaknya sebagai ilusi yang akan segera runtuh.
