Trump Ancam Tutup Total Selat Hormuz Usai Perundingan dengan Iran Gagal


Surakarta, 13 April 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan menutup total Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang mencoba melintasinya. Ancaman ini disampaikan Trump melalui unggahan di akun Truth Social pribadinya pada Senin (13 April 2026), hanya beberapa jam setelah perundingan antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
“Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses PEMBLOKIRAN semua Kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump. Ia menjelaskan bahwa kegagalan perundingan berpusat pada satu poin krusial: kesepakatan nuklir. Iran disebut menolak tuntutan AS untuk pembongkaran signifikan fasilitas nuklirnya, yang membuat Trump murka dan memilih jalur konfrontasi lebih lanjut.
Ancaman Trump ini semakin memperburuk situasi di Timur Tengah yang sudah sangat tegang. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20-21% pasokan minyak dunia setiap harinya. Jika benar-benar ditutup, dampaknya terhadap harga energi global akan sangat destruktif. Menurut analis dari Bloomberg, penutupan total selat tersebut berpotensi mendorong harga minyak Brent melampaui US$150–200 per barel dalam waktu singkat, memicu inflasi global dan resesi di banyak negara.
Trump juga mengklaim bahwa pasukan militer AS dan Israel telah berhasil “melenyapkan” sebagian besar pemimpin militer Iran, termasuk Mojtaba Khamenei yang baru saja diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi pengganti ayahnya. Klaim ini belum mendapat konfirmasi independen dari pihak ketiga, tetapi memperlihatkan pendekatan agresif Trump dalam menyelesaikan konflik.
Di sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran tidak akan mundur meski menghadapi ancaman blokade. “Kami siap menghadapi segala konsekuensi dan akan membalas setiap agresi dengan kekuatan yang lebih besar,” tegas Araghchi. Iran sebelumnya telah mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai senjata ekonomi jika AS terus melakukan provokasi.
Pasar keuangan langsung bereaksi. Harga minyak Brent naik tajam lebih dari 6% dalam perdagangan Asia, sementara saham perusahaan energi melonjak dan aset kripto seperti Bitcoin mengalami volatilitas tinggi sebagai safe-haven. Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sedang memantau situasi ini karena berpotensi memengaruhi harga BBM domestik dan inflasi.
Ancaman Trump ini menandai babak baru dalam konflik Iran-AS yang sudah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Banyak pengamat khawatir eskalasi ini bisa memicu perang regional yang lebih luas dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Sumber gambar: Politico
