Trump Berencana “Selesaikan” Kuba Usai Iran: “Hanya Masalah Waktu”
Surakarta, 7 Maret 2026 – Presiden Donald Trump memberikan sinyal kuat bahwa Amerika Serikat kemungkinan besar akan mengalihkan fokus geopolitiknya ke Kuba setelah operasi militer melawan Iran selesai. Pernyataan ini disampaikan Trump saat menghadiri acara penyambutan juara Major League Soccer Inter Miami CF di Gedung Putih, Jumat (6 Maret 2026). Di depan ratusan tamu yang mayoritas berdarah Kuba, Trump berkata: “Kami ingin menyelesaikan yang sekarang dulu. Setelah itu, hanya tinggal soal waktu sebelum banyak dari kalian bisa berkunjung ke negara asal.”
Pernyataan Trump ini langsung disambut sorak-sorai para tamu keturunan Kuba yang hadir. Sejak era Fidel Castro, jutaan warga Kuba melarikan diri ke AS karena alasan politik dan ekonomi. Generasi kedua dan ketiga keturunan Kuba di Florida (khususnya Miami) selama ini menjadi basis dukungan kuat Trump. Banyak dari mereka berharap suatu hari bisa kembali ke tanah leluhur tanpa hambatan politik.
Trump juga memberikan update singkat tentang konflik Iran. Ia mengklaim operasi militer AS-Israel masih berjalan dan telah “sangat melemahkan musuh”. “Militer AS dan Israel masih terus menghancurkan musuh. Operasi itu masih berjalan,” ujarnya. Ia turut memuji Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang dikenal sangat keras terhadap rezim kiri di Amerika Latin, termasuk Kuba dan Venezuela.
Senator Lindsey Graham, salah satu sekutu Trump di Senat, bahkan sempat menyebut Kuba sebagai “target berikutnya” setelah Iran dalam sebuah wawancara dengan Fox News pekan lalu. Graham menilai rezim Havana saat ini lemah secara ekonomi dan rentan terhadap tekanan eksternal.
Kuba sendiri sedang mengalami krisis ekonomi terburuk dalam tiga dekade. Inflasi tinggi, kekurangan listrik, dan migrasi massal membuat pemerintahan Miguel Díaz-Canel semakin goyah. Trump pada masa jabatan pertamanya (2017–2021) telah memperketat embargo terhadap Kuba dengan membatasi kunjungan dan remitansi. Banyak pengamat melihat pernyataan Trump kali ini sebagai sinyal bahwa kebijakan “maximum pressure” terhadap Kuba akan kembali diterapkan, bahkan mungkin dengan opsi yang lebih agresif.
Di tengah eskalasi Timur Tengah, pernyataan Trump tentang Kuba ini menunjukkan bahwa agenda kebijakan luar negerinya tidak hanya berhenti di Iran. Bagi komunitas Kuba di AS, ini menjadi harapan baru untuk “kebebasan” tanah kelahiran mereka. Namun, bagi Havana, ini adalah ancaman nyata yang bisa memicu gelombang demonstrasi baru di dalam negeri.
