Trump Beri Ultimatum 10-15 Hari ke Iran: Sepakati Kesepakatan atau Hadapi Konsekuensi Berat

2/20/20262 min baca

men in camouflage uniform standing on field during daytime
men in camouflage uniform standing on field during daytime

Surakarta, 20 Februari 2026 - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan batas waktu tegas kepada Iran untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Dalam pernyataan yang disampaikan pada 20 Februari 2026, Trump menyatakan bahwa Iran memiliki waktu sekitar 10 hingga 15 hari untuk menyepakati kesepakatan yang "berarti", atau akan menghadapi "hal-hal buruk" yang tidak diinginkan. "Jadi sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Kalian akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan. Kita harus mencapai kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ujar Trump, seperti dilaporkan Al Jazeera. Pernyataan ini semakin mempertajam ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah pertemuan delegasi AS-Iran di Oman yang berlangsung selama empat jam tanpa hasil konkret yang diumumkan.

Ultimatum Trump ini muncul di tengah upaya AS untuk membatasi program nuklir Iran, yang selama ini menjadi sumber konflik berkepanjangan. Menurut sumber diplomatik Reuters pada 20 Februari 2026, pertemuan di Oman merupakan bagian dari mediasi yang melibatkan Oman sebagai pihak netral, namun Iran disebut masih bersikeras mempertahankan haknya untuk pengayaan uranium tingkat rendah, sementara AS menuntut pembongkaran fasilitas nuklir secara signifikan. Trump, yang kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, telah berulang kali mengancam Iran dengan sanksi maksimum dan opsi militer jika tidak ada kesepakatan baru, menggantikan JCPOA yang ditinggalkan AS pada 2018.

Di pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah memperingatkan bahwa serangan AS akan memicu perang regional yang meluas, dengan pengerahan ribuan drone dan rudal balistik sebagai bentuk pertahanan. "Mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional," ujar Khamenei dalam pidato 1 Februari 2026. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran terbuka untuk diplomasi, tapi tidak akan menyerah pada tekanan, seperti yang dilaporkan The Guardian pada 20 Februari 2026.

Eskalasi ini langsung berdampak pada pasar keuangan global. Harga minyak Brent naik lebih dari 3% ke level US$88 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk Persia, sementara Bitcoin dan aset kripto lainnya mengalami fluktuasi tajam akibat sentimen risk-off. Menurut analisis Bloomberg pada 21 Februari 2026, ketegangan geopolitik ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global hingga 0,3% pada 2026 jika berujung pada konflik terbuka. Di Indonesia, Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan atas situasi ini, karena berpotensi memengaruhi harga BBM domestik dan stabilitas pasar keuangan.

Meskipun Trump masih membuka pintu negosiasi, ultimatum 10-15 hari ini menunjukkan pendekatan tegas "America First" yang menjadi ciri khasnya, meninggalkan dunia internasional dalam ketegangan menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.