Trump Ingin Pilih Pemimpin Tertinggi Iran Sendiri: “Kami Akan Bawa Iran Lebih Besar dan Lebih Kuat”

3/7/20261 min baca

Trump Ubah Tarif RI ke 19%, Usai Sepakat Impor Produk AS Miliaran Dolar
Trump Ubah Tarif RI ke 19%, Usai Sepakat Impor Produk AS Miliaran Dolar

Surakarta, 7 Maret 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial terkait masa depan Iran. Dalam unggahan di Truth Social pada Jumat (6 Maret 2026), Trump menyatakan bahwa Iran hanya bisa mendapatkan perdamaian jika menyerah tanpa syarat dan membiarkan AS ikut menentukan pemimpin baru pengganti Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan 28 Februari lalu.

“Putra Khamenei tidak dapat diterima bagi saya. Kami ingin seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian bagi Iran,” tulis Trump. Ia bahkan menegaskan bahwa setelah pemimpin baru terpilih sesuai keinginannya, AS dan sekutunya akan bekerja tanpa lelah untuk membangun kembali Iran agar “lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya”.

Pernyataan ini langsung menuai reaksi keras dari Tehran. Pemerintahan sementara Iran yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian menyebutnya sebagai “campur tangan terang-terangan dan pelanggaran kedaulatan”. Sementara itu, analis politik Timur Tengah dari Council on Foreign Relations (CFR) menilai sikap Trump ini mencerminkan pendekatan “regime change” yang pernah diterapkan AS di Irak dan Libya.

Trump juga menyebutkan contoh Venezuela, di mana ia baru-baru ini menunjuk Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara pengganti Nicolás Maduro. Langkah serupa, menurut Trump, bisa diterapkan di Iran untuk menghasilkan “pemimpin yang hebat dan dapat diterima”.

Di tengah pernyataan Trump, situasi di lapangan semakin tegang. Iran terus melancarkan serangan balasan ke fasilitas militer AS di Teluk, sementara harga minyak dunia terus melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Banyak pengamat khawatir bahwa sikap Trump yang ingin “memilih pemimpin Iran” justru akan memperpanjang konflik dan memicu instabilitas lebih besar di kawasan.

Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari Mojtaba Khamenei, yang selama ini dianggap sebagai kandidat kuat penerus ayahnya. Namun, sumber-sumber di Tehran menyebut bahwa keluarga Khamenei dan kalangan ulama konservatif menolak keras segala bentuk intervensi asing dalam proses suksesi.