Trump Klaim “Menang Perang” Lawan Iran, tapi AS Terpaksa Boyong THAAD dari Korsel
Surakarta, 13 Maret 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kemenangan besar dalam perang melawan Iran yang telah berlangsung 11 hari. Dalam pernyataan yang disiarkan melalui YouTube Associated Press pada Jumat (13 Maret 2026), Trump menyatakan bahwa militer AS dan Israel telah “hampir menghancurkan Iran” dalam waktu singkat. “Selama 11 hari terakhir, militer kita hampir menghancurkan Iran. Negara yang tangguh. Angkatan udaranya sudah hancur. Itu memakan waktu sekitar tiga jam. Mereka tidak lagi memiliki radar. Mereka tidak memiliki peralatan anti-pesawat. Mereka tidak memiliki apa-apa,” tegas Trump.
Namun, di balik klaim kemenangan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan situasi yang jauh lebih berat bagi AS. Pentagon terpaksa memindahkan salah satu sistem pertahanan rudal balistik paling canggihnya, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dari Korea Selatan ke kawasan Teluk Persia. Menurut laporan eksklusif Newsweek pada 12 Maret 2026, pemindahan ini dilakukan karena serangan rudal dan drone Iran yang masif telah menghabiskan sebagian besar stok amunisi AS. THAAD, yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan Korea Selatan terhadap ancaman Korut, kini dialihkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Irak yang terus menjadi target serangan balasan Iran.
Data internal Pentagon yang bocor ke media menyebutkan bahwa dalam enam hari pertama konflik saja, AS telah menghabiskan lebih dari US$11,3 miliar (Rp190 triliun) hanya untuk amunisi dan pertahanan udara. Rudal Patriot PAC-3 dan SM-2 yang harganya mencapai US$3,5–4 juta per unit digunakan dalam jumlah besar untuk mengintersepsi drone Shahed-136 Iran yang hanya bernilai US$20 ribu per unit. Senator Demokrat Chris Coons menyebut angka ini “sangat mengkhawatirkan” dan bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menurunkan biaya hidup rakyat AS.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah memerintahkan pasukan untuk melancarkan “serangan terkuat” sebagai respons. Namun, serangan drone Iran yang terus-menerus ke fasilitas militer AS di Teluk telah menyebabkan kerusakan signifikan pada radar peringatan dini AN/FPS-132 di Al Udeid (Qatar) dan markas Armada Kelima di Bahrain.
Di sisi lain, Iran di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei justru semakin agresif. Pemimpin Tertinggi baru ini bersumpah akan terus berperang dan menolak mentah-mentah tawaran gencatan senjata dari Trump. “Kami tidak akan menahan diri untuk membalaskan darah para martir,” tegas Mojtaba dalam pidato terbarunya.
Harga minyak Brent terus melonjak akibat ancaman penutupan Selat Hormuz, sementara lalu lintas kapal tanker di wilayah tersebut turun hingga 70%. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini dan kembali mengimbau semua pihak menahan diri serta kembali ke meja perundingan.
Konflik yang semula diperkirakan Trump hanya berlangsung sebulan kini semakin tak terkendali, dengan biaya militer AS yang membengkak dan aset strategis seperti THAAD harus dipindahkan dari Korea Selatan. Situasi ini menjadi pengingat bahwa perang modern tidak hanya soal kekuatan, tapi juga efisiensi dan keberlanjutan sumber daya.
