Tukang Cukur Banyak dari Garut: Bisnis yang Lahir dari Perpindahan Warga

9/15/20262 min baca

man in red crew neck t-shirt cutting the hair of the man
man in red crew neck t-shirt cutting the hair of the man

Surakarta, 15 September 2026 - Jika berjalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, ada satu pemandangan yang cukup mudah ditemukan, yakni tempat pangkas rambut dengan tulisan “Asgar” yang berarti Asli Garut. Bukan sekadar identitas daerah, keberadaan tukang cukur asal Garut ini ternyata punya sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perpindahan masyarakat akibat konflik bersenjata.

Awal Mula Tradisi Cukur di Garut

Tradisi pangkas rambut di Garut sebenarnya sudah ada sejak era sebelum kemerdekaan. Menurut penuturan sesepuh dan catatan sejarah lokal, salah satu tokoh awal adalah Haji Idi dari wilayah Banyuresmi (atau sekitarnya). Pada 1920–1930-an, ia sempat menjadi tukang cukur bagi orang Belanda. Keahlian itu kemudian diajarkan kepada keluarga dan tetangga, sehingga keterampilan mencukur mulai menyebar di kalangan warga, khususnya di Kecamatan Banyuresmi yang hingga kini dikenal sebagai “gudang” tukang cukur.

Pada masa awal, alat yang digunakan masih sangat sederhana: gunting dan sisir. Banyak yang bekerja secara keliling, membuka lapak seadanya di bawah pohon atau emperan toko.

Konflik DI/TII yang Memicu Eksodus

Titik balik besar terjadi pada era 1950-an. Garut menjadi salah satu wilayah yang terdampak konflik antara Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan S.M. Kartosoewirjo dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Serangkaian serangan, perampasan, dan tekanan untuk bergabung pada 1953–1956 membuat ribuan warga memilih meninggalkan kampung halaman demi mencari tempat yang lebih aman.

Bandung dan Jakarta menjadi tujuan utama para pengungsi dari Garut, termasuk masyarakat Banyuresmi. Mereka yang sebelumnya banyak bekerja sebagai petani kemudian harus mencari sumber penghasilan baru di kota—mulai dari berdagang, menjadi tukang bangunan, hingga menawarkan berbagai jasa.

Mengapa Memilih Jadi Tukang Cukur?

Dari banyak pilihan pekerjaan, memangkas rambut menjadi salah satu yang paling menjanjikan. Alasannya sederhana:

  • Rambut manusia akan terus tumbuh sehingga kebutuhan untuk memotongnya tidak pernah benar-benar hilang.

  • Profesi ini relatif mudah dimulai karena tidak membutuhkan modal besar.

  • Tidak memerlukan pendidikan formal tinggi.

  • Bisa dilakukan secara keliling tanpa harus memiliki toko permanen.

Banyak pemuda yang tidak ingin terlibat dalam konflik atau menjadi “pagar betis” memilih keluar kota dan menjadikan keterampilan mencukur sebagai bekal bertahan hidup.

Dari Pengungsian Menjadi Tradisi Turun-Temurun

Persebaran tukang cukur asal Garut tidak berhenti ketika kondisi keamanan mulai membaik. Kesulitan ekonomi membuat sebagian dari mereka tetap menekuni profesi tersebut setelah kembali ke daerah asal. Dari sini, kemampuan memangkas rambut kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Anak-anak muda dibawa ke tempat cukur sejak kecil, mengamati pekerjaan senior, sebelum akhirnya belajar mencukur dan membuka usaha sendiri. Hingga kini, banyak tukang cukur “Asgar” tersebar di berbagai kota besar, dari Bandung, Jakarta, hingga daerah-daerah lain di Indonesia. Nama “Asgar” pun menjadi identitas yang dikenal luas.

Pelajaran dari Sejarah Asgar

Kisah tukang cukur Asgar menunjukkan bagaimana sebuah profesi bisa lahir dan menguat dari kondisi sulit. Perpindahan akibat konflik memaksa orang beradaptasi, menemukan keterampilan yang relevan, lalu mewariskannya secara turun-temurun. Yang awalnya sekadar cara bertahan hidup, akhirnya menjadi identitas ekonomi dan budaya yang bertahan puluhan tahun.

Tukang cukur “Asgar” (Asli Garut) memiliki sejarah panjang, berawal dari keterampilan yang sudah ada sejak era kolonial dan menyebar luas akibat pengungsian warga Garut (terutama Banyuresmi) selama konflik DI/TII tahun 1950-an. Profesi ini dipilih karena mudah, murah modal, dan selalu dibutuhkan. Hingga kini, keahlian tersebut diwariskan lintas generasi dan menjadi ciri khas yang mudah ditemukan di berbagai kota Indonesia.

Media Sosial

Temukan Kami

#KenalLebihDekat

© 2024-2026 Kaspa Space. All Rights Reserved

asosiasi coworking indonesia CID
asosiasi coworking indonesia CID

Anggota Asosiasi