Utang AS Tembus US$38,5 Triliun: Ahli Prediksi Krisis Ekonomi Global Bisa Picu 'Debt Death Spiral'
Surakarta, 4 Januari 2026- Utang nasional Amerika Serikat (AS) yang kini mencapai US$38,5 triliun telah menjadi alarm bagi para ekonom global, dengan prediksi bahwa kondisi ini bisa memicu krisis ekonomi terparah dalam sejarah yang akan menyapu dunia. Ekonom Eropa Fredrik Erixon dari European Centre for International Political Economy (ECIPE) menilai ekonomi AS sedang dalam kondisi tidak sehat dan berisiko tinggi, terutama karena kebijakan pemerintahan Donald Trump periode kedua yang saling melemahkan, seperti peningkatan tarif dagang yang bisa memperburuk defisit anggaran. Erixon memperingatkan bahwa krisis utang nasional AS ini berpotensi mengguncang ekonomi global, khususnya jika independensi Federal Reserve (The Fed) tergerus oleh intervensi politik, yang bisa memicu inflasi tak terkendali dan penurunan pertumbuhan. Ia juga menyoroti bahwa pertumbuhan AS hanya terkonsentrasi di sektor pusat data dan AI, sementara sektor lain melemah, berpotensi meningkatkan pengangguran hingga 2026 karena permintaan tenaga kerja menurun.
Peringatan serupa datang dari miliarder investor Ray Dalio, yang menyebut AS sedang menuju "debt death spiral"—siklus mematikan di mana pemerintah harus terus meminjam hanya untuk membayar bunga utang, menyebabkan defisit membengkak tak terkendali. Dalam wawancara CNBC pada awal 2025, Dalio menyatakan bahwa utang AS yang membengkak ini adalah bagian dari siklus besar, di mana defisit anggaran yang mencapai US$1,74 triliun pada fiskal 2025 akan memaksa pilihan antara inflasi tinggi atau resesi dalam. Dalio, yang memprediksi krisis ini bisa mencapai puncak pada 2026-2029, menekankan bahwa tanpa pemotongan drastis, AS akan menghadapi "economic heart attack" yang mempengaruhi pasar global, termasuk penurunan nilai dolar dan lonjakan harga komoditas. Ia juga memperingatkan bahwa interest payments pada utang AS kini melebihi US$1 triliun annually, lebih tinggi dari pengeluaran pertahanan, dan terus naik karena suku bunga yang lebih tinggi.
Ekonom Peter Schiff juga bergabung dalam chorus peringatan ini, menyatakan bahwa The Fed diam-diam kembali ke kebijakan yang memicu inflasi melalui pembelian obligasi US$40 miliar per bulan, yang ia anggap sebagai monetisasi utang yang akan mempercepat akhir dominasi dolar AS. Schiff memprediksi bahwa emas akan menggantikan dolar sebagai aset cadangan utama, menyebabkan anjloknya nilai greenback terhadap mata uang fiat lain dan memicu krisis ekonomi bersejarah yang lebih parah dari 2008. Prediksi ini didukung oleh data: indeks dolar turun 9,93% sepanjang 2025, sementara emas mencapai rekor US$4.383 per ons pada Desember 2025, sinyal erosi kepercayaan global terhadap dolar. Schiff, dalam wawancara Kitco News, menambahkan bahwa defisit AS yang tak terkendali akan memaksa inflasi sebagai jalan keluar, mempengaruhi negara berkembang seperti Indonesia melalui pelemahan mata uang dan kenaikan harga impor.
Dampak potensial bagi dunia sangat luas, dengan Erixon menyarankan negara seperti Korea Selatan dan Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi sendiri melalui diversifikasi dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) telah memperingatkan risiko ini sejak 2025, dengan proyeksi pertumbuhan global melambat ke 3% pada 2026 akibat tarif AS dan kerentanan rantai pasok, yang bisa menekan ekspor dan meningkatkan inflasi domestik. Meski demikian, sebagian ekonom seperti Paul Krugman berargumen bahwa utang AS masih manageable karena status reserve currency, tapi Schiff dan Dalio menolaknya sebagai ilusi yang akan segera runtuh. Dengan utang AS yang terus naik—menurut Fiscal Data Treasury, mencapai US$38,5 triliun pada Januari 2026—peringatan ini menjadi panggilan untuk persiapan global terhadap potensi krisis.
