Wapres Gibran Dorong Mahasiswa UKSW Kuasai AI, Blockchain, dan Robotika: Era Transformasi Digital


Surakarta, 29 Januari 2026 - Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk menghadapi era transformasi global yang semakin pesat. Dalam acara talkshow bertajuk "Arah Baru Pembangunan Nasional" di Auditorium Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, pada Senin (26 Januari 2026), Gibran mendorong para mahasiswa untuk segera menguasai kecerdasan buatan (AI), blockchain, robotika, ekonomi digital, dan coding. "Kita masih punya waktu untuk mengenalkan AI, blockchain, robotika, ekonomi digital, kita ingin mengenalkan itu sedini mungkin, termasuk coding. Kita ingin anak-anak muda punya critical thinking, problem solving, dan berpikir komputasional," ujar Gibran di hadapan sekitar 1.000 mahasiswa dan sivitas akademika UKSW, seperti dilaporkan situs resmi Wakil Presiden RI. Acara ini juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, dan menjadi platform bagi Gibran untuk memaparkan visi pemerintah dalam pembangunan nasional, termasuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pengembangan Papua.
Gibran menyoroti bahwa penguatan infrastruktur digital adalah kunci utama untuk menjadikan Indonesia sebagai pelaku aktif dalam transformasi digital global, bukan sekadar penonton. Ia menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah melalui teknologi seperti AI dan robotika akan membuat generasi muda lebih kompetitif. Selain itu, Gibran memuji inovasi mahasiswa UKSW, seperti produk teknologi ramah lingkungan dan aplikasi digital untuk pelayanan publik, yang dipamerkan selama kunjungannya. "Kita sudah instruksikan staf Setwapres untuk mulai memindahkan secara bertahap ke IKN," tambahnya, sambil membangun keakraban dengan mahasiswa melalui sesi tanya-jawab yang hidup, di mana ia menjawab pertanyaan seputar pengembangan talenta digital di Indonesia. Kunjungan ini bagian dari rangkaian agenda Gibran untuk mendorong pendidikan berbasis teknologi, seperti yang ia lakukan di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, di mana santri memamerkan karya AI dan robotika.
Ini bukan kali pertama Gibran menyuarakan urgensi penguasaan teknologi digital. Pada Mei 2025, ia mengumumkan bahwa mata pelajaran AI akan masuk ke kurikulum nasional mulai dari SD hingga SMA pada tahun ajaran 2025/2026, sebagai upaya mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0 dan 5.0. Dalam acara peluncuran Fakultas AI di Universitas Pelita Harapan (UPH) pada Maret 2025, Gibran menekankan bahwa "AI bukan ancaman, tapi peluang jika kita kuasai sedini mungkin," dan mendorong kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan industri untuk pelatihan AI massal. Program ini telah menjangkau 15.000 peserta di 1.300 madrasah dan pesantren sepanjang 2025, bekerja sama dengan perusahaan seperti Microsoft untuk pengenalan coding dan blockchain. Di UKSW, Gibran juga membahas pembangunan Papua dan IKN sebagai contoh penerapan teknologi digital untuk inklusi ekonomi, di mana AI dan blockchain bisa digunakan untuk transparansi distribusi bantuan sosial dan pengelolaan sumber daya.
Langkah Gibran ini sejalan dengan tren global di WEF Davos, di mana pemimpin seperti CEO DeepMind Demis Hassabis memprediksi AI akan mengubah pasar kerja, tapi menciptakan peluang baru jika SDM disiapkan. Di Indonesia, dengan target 5 juta tenaga kerja terampil AI pada 2030 menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, inisiatif seperti ini menjadi krusial untuk daya saing nasional. Meski demikian, tantangan seperti kesenjangan akses teknologi di daerah pedesaan tetap perlu diatasi untuk memastikan manfaat merata. Kunjungan Gibran ke UKSW ini diharapkan menginspirasi kampus lain untuk memperkuat kurikulum teknologi, seperti yang telah dilakukan Unair sejak 2020 dengan prodi Teknik Robotika dan AI.
Image Source: Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Wakil Presiden
